Wednesday, November 10, 2010

Emotional Intelligence Diversity


Spiritualitas sekarang banyak dibicarakan bukan saja di lorong masjid, surau ataupun langgar, namun sudah hadir pada diskusi eksekutif, kelas professional dan bagi sebagian karyawan LSM Internasional seperti saya. Di negara kita salah satu lembaga kondang untuk membicarakan topik ini diasuh oleh pak Ary Ginanjar Agustian dengan 165 yang populer dan God Spot nya yang merontokkan semua rasio manusia. Di luar negeri istilah 'respiritualizing human' juga sudah menjadi bahan diskusi seperti yang digarap oleh eidi-emotional intelligence and diversity insititute, sebuah lembaga yang basisnya berada di Los Angeles, California, AS.


Dalam workshop kepemimpinan kali ini, saya dan kawan-kawan lembaga seasia pasifik berkumpul di kota Melbourne, sebuah kota padat yang berlokasi di bagian selatan benua Australia. Perjalanan dengan 6 jam pesawat non stop dari Bandara Soetta, Banten. Menurut eidi, kepribadian seseorang dibentuk dipengaruhi oleh tiga lapisan, pertama disebut dengan dimensi internal. Dimensi yang terdiri dari pengaruh suku, ras, kemampuan fisik, umur, jenis kelamin dan orentasi seksual. Dimensi kedua terdiri dari lokasi geografis, pendapatan, kebiasaan pribadi, kebiasaan saat berekreasi, agama, latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, penamiplan, status pengasuhan, status perkawinan. Sedangkan aspek terakhir yaitu dimensi organisasional, yaitu tingkat fungsi atau klasifikasi pekerjaan, kemampuan isi pekerjaan, divisi, senioritas, lokasi bekerja, afiliasi politik dan status pengelolaan.


Ketiga aspek tersebut bersama-sama membuat manusia berfungsi secara emosional dan rasional. Emosi biasanya ada pada jantung energi kita, komitmen dan motivasi. Perasaan berpengaruh pada pembentukan reaksi kita pada perbedaan yang kita alami untuk orang lain, apakah kita akan mendekati atau menghindari, menyukai atau membenci, menerima atau menolaknya. Semakin kita memahami dan mengelola bagaimana respon emosi kita, semakin kita dapat menikmati kenyamanan dalam membangun sebuah hubungan, efektifitas dalam sebuah interaksi dan kedamaian dalam diri.


Melbourne, 10 November 2010

Wednesday, October 13, 2010

Tenaga Survey opo Survey Ilmiah

LSM International dengan pendekatan sains memiliki harapan kuat untuk melatih tenaga survey, proses pendidikan, capacity building, penelitian, pengembangan metodologi pengambilan data bagaimana menjadi intervensi untuk Land Use manager. Peran seperti itu kemudian menjadi melembaga menjadi suatu unit survey. Reposisi peran tim survey penting karena menentukan input arah program kedepan.

Akumulasi metodologi standar sudah diperkaya dengan jam terbang tinggi dapat memberikan penambahan nilai untuk modifikasi. Survey menghasilkan data, data menjadi informasi, informasi menjadi hasil analisa, hasil analisa bisa menjadi rekomendasi kebijakan.

Seharusnya lembaga menghargai diri sendiri, untuk meningkatkan nilai jual profesi dan personal tim. Komoditas data penelitian dapat berupa menjadi produk cerita dari lapangan, pengalaman-pengalaman dan buku panduan lapangan.

Penyajian dan ekspose hasil penelitian sebetulnya disajikan dalam bentuk sederhana sambil memperkenalkan identitas tim survey. Selama ini tim survey mendukung Science (riset), Comdev (community organizer), Komunikasi (data/informasi management), Program (capacity building/riset) secara sederahana semua dapat dilakukan pada core competency Survey Biodiversity. Bagaimana menjual adalah dengan membuat kemasan tersebut hadir dalam bentuk poster, booklet, field guide dan hasil identifikasi sederhana.


 

Tanjung Redeb, 13 Oktober 2010

Tuesday, October 12, 2010

Pekerjaan Satu Hari

Pekerja dan pekerjaannya membutuhkan upaya bekerja agar cepat hasil dan selesai, kerja gak lagi dengan keringat jaman sekarang trend untuk bekerja cerdas-smart dan bekerja cepat!. Tapi yang namanya dunia, the city that never sleeps, tidak akan pernah berakhir. Pekerjaan besok jangan pernah ditunda besok, karena besok akan membuahkan sebuah pekerjaan baru. Bekerja seperti kuda, di pacu dicambuk dan dipecut, mungkin masih relevan, deadline mengejar-ngejar dan diujung pintu kantor sudah ditunggu oleh laporan bulanan.

Pada hakikatnya pekerjaan yang tidak pernah berakhir itu adalah waktu kita, pertemuan antara kurva sigma umur badan kita dan sisa jatah waktu tinggal di dunia. Kita akan tersentak kelak dengan cepatnya waktu berlalu mengejar emas, kursi dan wanita, sampai kemudian kita tersadar ketika tangan mungil, mata kejora dan mulut cadel itu berubah menjadi sosok manusia dewasa dengan anak-anak mereka di kanan dan kirinya. Apakah pada waktu reuni itu nanti mereka akan ingat berapa banyak emas dan kursi yang berhasil kita bawa pulang, atau wanita yang membuat kita mabuk, ataukah mereka akan mengenang suatu pagi yang dihabiskan bersama dengan canda dan tawa lepas, suatu kenangan manis di sore hari di dekat semak berry hutan, ketika malam bercerita kisah seorang pangeran tampan menunggang kuda coklat membawa sekeranjang madu itu? Entahlah


 

Tanjung Redeb, 12 Oktober 2010

Saturday, October 9, 2010

Building Human Blocks


Bangunan Mulia

Nabi Muhammad SAW menghabiskan banyak waktu untuk membangun sebuah jembatan, bangunan yang kokoh yang mebuat perubahan peradaban manusia. Nabi SAW pernah berkata, saya merindukan orang yang sangat dicintai, sahabat bertanya bukankan kami orang yang dicintai, nabi SAW menjawab kamu adalah sahabatku dan saya mencintai Al Ahbab, orang yang mencintai Nabi SAW walaupun tidak pernah bertemu denganku.

Proses pembangunan jembatan hati membutuhkan kita sebagai orangtua untuk membaca, bahkan orang yang belum menikahpun dapat membaca tentang pernikahan, tentang parenting dsb. Nabi SAW bersabda, barang siapa yang dapat mendidik 3 anak perempuan dengan baik maka dia akan masuk surge. Jadi kenapa tidak tujuan mulia hidupku adalah memberikan yang terbaik menjadikan mereka anak laki-laki dan perempuan yang lebih baik, sambil memvisualkan bahwa merekalah yang akan membuka pintu surga sambil berkata, silahkan masuk ayahanda.

Mulailah dengan mencintai anak dan masuklah dengan iman. Semeni dengan batu bata ibadah. Manifestasi semua itu adalah perilaku, tingkah laku, ahlak, moral, adab. Konsep moral akan terbangun diatas konsep ibadah, apabila tidak maka konsep itu akan kosong, labil dan palsu. Ahlak nabi Muhammad SAW adalah adzim, Agung, kata yang digunakan Tuhan yang levelnya sama dengan keagungan Tuhan, AlQuran, Adzab, Hari Akhirat dsb. Radiasi ahlak tersebut tidak saja merubah jiwa manusia namun juga teradiasi pada mahluk hidup dan tanaman.

Nabi SAW tidak pernah menyalahkan Annas r.a ketika beliau diminta melakukan sesuatu dan diperintah orang lain. Beliau SAW mengajarkan taqdir secara konstruktif, bahwa Alloh swt tidak mengizinkan hal tersebut terjadi, namun dihari kemudian hal tersebut bisa terjadi berbeda apabila anak tersebut melakukan hal dengan cara yang berbeda.


 

Tanjung Redeb, 09 Oktober 2010

Friday, October 8, 2010

Bekerja Tanpa Hati

Penyakit sering hadir pada air tergenang, ketika ia bergerak dalam aliran sungai, air tersebut menjadi sehat kembali. Seperti halnya air, dalam organisasi saya kok merasa hal yang sama kalo 'menetap' terlalu lama, konsekuensi bekerja ala si 'mukimin' dan 'muhajir' akan memberikan dampak yang berbeda pada organisasi tersebut. Mukimin biasanya ahli sejarah perjalanan organisasi, kenal watak tetangga rumah, tau gossip yang berkembang sampai dinamika politik kantor. Muhajir, sebagai pendatang melihat komunitas yang ada sebagai tetangga baru, optimisme, peluang hidup, belajar kultur setempat, idealnya membawa perubahan terhadap tempat tersebut.


 

Sasaran intervensi semua kata benda nilai sebuah lokasi konservasi, Biodiversity, Livelihood, Land Use Management, Policy and institution, Sustainable Financing. Sasaran intervensi ibarat amunisi. Apa senjatanya? Science knowledge management, spatial planning, Community development, Campaign and advocacy ditambah governance, communication, learning and application dan operations.


 

Yang perlu dibangun dalam membangun sebuah pencapaian organisasi yang baru adalah bangunan road map intervensi dan approach. Road map tersebut merupakan islah antara mukimin dan muhajirin. Sebuah islah yang dapat mendamaikan masa sejarah yang dialami si mukimin dan ide-ide baru perubahan si muhajirin. Gap tersebut adalah jurang, dan islah adalah jembatan untuk mempertemukan kedua tepi jurang tersebut.


 

Samarinda, 08 Oktober 2010