Sunday, July 12, 2009

Indian dinner

Living and working in Berau for the Conservancy brings color to my life. Every page offers a different experience, knowledge, consequence and consciousness as a living being. This what Syakh Hamza Yusuf said as our debt to our Lord the Almighty, the debt of consciousness. The feeling of indebtedness is what we call as Dien in Arabic. Islam itself is the state of Aslama, one of the meanings is surrender to the law of God and feeling of wholeness.

Every pulse of our blood, every beat of our heart, every blink of our eyes follows the law of nature. Our sensing, thinking, feeling and sensation indicate our living. These are our tools of consciousness. I always find these overwhelmed in terms of experiencing our only miraculous life.


I some time shared about this within my time with my gardening friend, Rumi Naito, who came over to my house for an Indian banquet. I say what makes gathering so delightful are good friends, good talks and home made food! So we started preparing from 4 pm to 7 pm with breaks for praying. We made ‘nan’ or thin Indian bread from wheat flour and yeast. And Indian karee with slices of carrots, potatoes, cabbage and stream beans…mm I love them.


After dinner we had hot milky tea that adds the flavor and relax conversation with friends. I remember one question from Uncle Teddy for Rumi in our talks. “Do you read any books before your coming to Indonesia?” asked Uncle. “I don’t put much detail about where I am going; I like to see something new, feel and relish in every new corner that surprise and amaze my self” said Rumi.


Rumi, I, you and all of us in the essence are a time traveler. We moved from our childhood to adulthood. We are always moving and never stay the same. But our modern mind dulls our sense. We become numb to what we look, hear and feel as we trap into the routine life. Our life goes into motion, we live in sleep walking mode.

So Rumi tells us to live with our conscious and ready for all the moments and surprises that await us. In this essence you are living in Aslama state. Bon Voyage!


-Insight Market-ing, Life and Conservation Journal-

Sunday, July 12, 2009 / Tanjung Redeb

Monday, June 29, 2009

Sweet Smelling Breath

Zaky, our 7 months old baby boy, is never brushing his teeth nor wash his mouth, or maybe he doesn't need it. Some time I wonder, every time I smell his mouth. He has sweet smelling breath.

I ve been smelling his mouth ever since he was born, though only once in a month, as I am working in a very remote area.

I think, baby's breath smell good because they live from good food or even exclusive breast feed food and good soul.

Babies doesn't speak ill about people and always experience the life. I always find Zaky in minutes change from laughing to crying. He is so much sensitive with the environment. And I bet he is very honest when smiling, giggling or crying. Maybe all of these what makes his breath smells sweet.

I enjoy smelling his breath and still want to embrace this moment and savor it!

-Insight Market-ing, Life and Conservation Journal-
Tuesday, 30th June 2009/ Uncle Fakhrizal
@:^)



Sunday, June 28, 2009

“Sugar Cane Party with Wahyu Nurmaruf”

He is my 21 old year young fellow. I met him one week ago at Students Nature’s Union meeting after delivering a talk on Climate Change issue. In Berau district, with population of almost 170 thousand people within 2,2 Mio Ha, this area is considered small and scattered population. You only have three higher educations namely, STIT (College for Education Sciences), STIPER (College for Agriculture Sciences) and STIEM (Muhammadiyyah College for Economic Sciences).

Wahyu Nurmaruf is registered as the 2nd semester student of English Department at STIT. The learning and teaching is start from 7pm to 10pm in the evening. All of these colleges start their class on the same period. In this city education should run in efficient way. School building has got many purposes that operate almost 18 hours a day. From Junior and High school students in the morning until afternoon time and college student in the evening time. Lecturers also the same, start early morning as government employees and continue educating students in the evening. That’s truly dedication!

Wahyu chose English Department because he said that he wants to be a business man. “I knew a bit of accounting from my senior high school therefore I don’t need to go to STIEM, and as I am doing farming myself, its not necessary for me taking STIPER, so here I am stretching my English skills” Said Wahyu.

Sunday, June 28, 2009, I drove by to his farm with English senior teacher in Berau. To my surprise he is actually a successful young entrepreneur. His start his day at down at 4 am to 7 am by selling his own garden veggies to Gayam local market. Returning to his house, he will work in the garden of 2500 m2 until noon time. Then in the afternoon after harvesting ready sold commodities, he goes to campus for studying.

He grows different kind of veggies at Jalan Murjani II Gang Lestari in Tanjung Redeb city. From mustard greens, kangkung, spinach, lettuce, banana, sugar cane and cassava. I took this opportunity to try his sugar cane, the yellowish and greenish one. While he prepared our sugar cane party, the young boy who has been farming for almost half of his age. He gave me Climatology lesson. “If there is no rain in a week and you have got high temperature, then usually down pour will come at the end of the week” said this oldest brother of three siblings.

Wahyu is very proud to him self, looking towards the future he is now earning Rp 3 Million/month. “This is enough to support my education and family” said Wahyu with a wide smile. He has got the secret ingredients of success from working hard, discipline and setting high bar for himself.
-Insight Market-ing, Life and Conservation Journal-Sunday, 28th June 2009/ Uncle Fakhrizal
@:^)

Positioning LSM dalam CFM

Bagaimana sebenarnya posisi LSM dalam CFM? Dapatkah CFM diimplementasi tanpa kehadiran LSM, apabila tidak, maka apakah LSM adalah SH dari CFM? Dan apa saja kepentingan dari LSM terhadap CFM?

CFM merupakan singkatan dari istilah Collaborative Forest Management. Menurut Tadjudin (2000) belum ada istilah yang cukup kuat mengganti istilah collaborative dalam Bahasa Indonesia yang menjelaskan mekanisme kerja yang didorong oleh pengakuan terhadap hak-hak yang melekat pada setiap pihak yang bekerja bersama-sama.

Tadjudin (2000) mendefinisikan Collaborative Management (Manajemen Kolaborasi) sebagai suatu bentuk manajemen yang mengakomodasikan kepentingan-kepentingan seluruh stakeholder (SH) secara adil, dan memandang harkat setiap SH sebagai entitas yang sederajat sebagai tatanilai yang berlaku, dalam rangka mencapai tujuan bersama.

The Nature Conservancy (TNC) dalam buku panduan mengenai CFM (2009) (Manajemen Hutan Kolaborasi) mendefinisikan CFM sebagai pendekatan terintegrasi untuk mendorong keberlanjutan dan keseimbangan pengelolaan sumberdaya hutan. Untuk mencapai hal tersebut kepentingan dan kemampuan yang beragam dari pemerintah, perusahaan kayu, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) serta komunitas masyarakat yang tergantung dengan hutan perlu diramu kedalam satu program bersama.

Pada awalnya istilah stakeholder (SH) bermula dari teori manajemen bisnis. Istilah ini banyak digunakan oleh semua pihak yang berkaitan dengan masalah pengelolaan sumberdaya. Menurut Hobley (1996), SH adalah orang atau organisasi yang terlibat dalam suatu kegiatan atau program-program pembangunan serta orang-orang atau organisasi yang terkena pengaruh (dampak) kegiatan yang bersangkutan.

Dalam CFM sekurang-kurangnya terdapat lima SH yang saling berinteraksi dan memiliki hak dan tujuan individual yang berbeda. Dalam sistem manajemen mereka berkedudukan sederajat dan didorong agar mampu mengakomodasikan tujuan-tujuan individualnya menjadi tujuan kolektif yang disepakati bersama (Tadjudin 2000). Kelima SH tersebut adalah masyarakat, pemerintah, swasta, hutan dan lembaga penyangga. Dalam interaksi tersebut hutan ditempatkan sebagai ’inti’, karena keberadaan hutan sebagai sumberdaya hutan itulah yang menyebabkan interaksi antar SH itu menjadi ada.

Lembaga penyangga (Buffer Institutions) merupakan lembaga swadaya masyarakat dan lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya yang memiliki kepedulian terhadap masalah pemberdayaan masyarakat dan kelestarian lingkungan hutan. LSM, para akademisi (secara individual), perguruan tinggi, dan lembaga-lembaga kemasyarakatan lokal termasuk dalam kategori ini. Fungsi obyektif lembaga ini adalah memaksimumkan layanan akomodatif, korektif, dan suportif agar interaksi ketiga SH diatas berjalan baik. Lembaga penyangga ini merupakan lembaga yang paling independen untuk melakukan pemberdayaan masyarakat dan merangsang terjadinya revitalisasi kelembagaan terutama menyangkut lembaga pemerintah.

Masyarakat dan hutan merupakan SH yang relatif paling lemah dalam realitas. Masyarakat itu lemah karena secara tradisional pemerintah belum mengakui hak-haknya secara sungguh-sungguh. Sedangkan hutan itu lemah karena ia tidak bisa melawan ketika dipandang hanya sebagai obyek yang siap dieksploitasi. Karena itu, sudah pada tempatnya jika pemerintah dan lembaga penyangga lebih berpihak pada masyarakat dan hutan.

Sehingga kalo saya simpulkan, posisi LSM adalah SH dalam CFM. Penerapan CFM mutlak memerlukan lembaga independen yang tidak melulu LSM namun biasanya memang LSM. LSM lingkungan berkepentingan sebagai penyambung (akomodatif, korektif dan suportif) aspirasi masyarakat global, nasional dan lokal terhadap eksistensi ’hutan’ untuk kehidupan manusia.

-Insight Market-ing, Life and Conservation Journal-Saturday, 27th June 2009/ Abang Fakhrizal
@:^)




Saturday, June 27, 2009

Bisnis Ojeg Bukan Asal Ngojeg

Diskusi marketing bersama teman sekost-an memang selalu menarik minat saya. Pada hari minggu sore saya dan pak BW, begitu panggilan akrab temanku, membincangkan perihal tamu mahasiswi Universitas Columbia dari New York, Amerika Serikat yang sedang internship di kantor lapangan TNC-Terrestrial Berau. Setiap harinya Rumi Naito, mahasiswi tersebut terbantukan dengan kebaikan rekan kerja kami yang menjemput dan mengantarkan pulang dengan motor. “Namun bagaimana nanti setelah rekan tersebut pindah?” siapa juga yang akan membantu mahasiswi tersebut.

Pak BW sambil seloroh dia punya beberapa orang ojeg panggilan. Bukan hanya itu dia tahu mana ojeg yang berbisnis ojeg dan bukan asal ngojeg. Sekarang setiap saat Pak BW kerja di kantor Tanjung Redeb, beliau bisa mengirimkan pesan singkat kepada ojeg andalannya yang menjemput tepat waktu dan pelayanan yang paling special adalah badan si ojeg tersebut wangi!. “Dia selalu menggunakan parfum mas, jadi saya senang dibonceng orang tersebut”, sela pak BW.

Saya terkesima, walah ada juga ya tukang ojeg yang mempunyai pelayanan seperti itu, tidak terpikirkan sebelumnya. Kalo saya ambil kata-kata pak Hermawan Kertajaya, ahli marketing prominen negara ini, pasar sekarang memasuki fase ‘one to one market’. Segmentasi pasar akan semakin jelas dan produsen akan menargetkan differensiasi produk dan servisnya langsung orang perorang.

Jadi sebetulnya, ojeg bukan lagi komoditi dan pasarnya bukan lagi diskrit, liar, tidak menentu, tergantung rezeki dari Gusti Ilahi. Ojeg memiliki pasar yang bisa disasar secara jelas, direncanakan dan menyasar orang perorang. Kembali ke diskusi sore itu, pak BW menambahkan satu pelayanan yang dia suka dari ojeg providernya itu. “Dia kalo bawa motor pelan-pelan mas, ga ugalan, saya jadi tenang diperjalanan” begitu dia mengahiri diskusi perojegan.

Lah sekarang memang begini dunia kita, pengguna ojeg tidak lagi nrimo pelayanan asal gas, tapi juga menentukan malah bisa menjadi customer loyalty usaha ojeg anda!

-Insight Market-ing, Life and Conservation Journal-Sunday, 20th June 2009/ Abang Fakhrizal
@:^)

House wife dilemma

My wife called me regarding her best friend’s marriage situation. Let say Julia as her name. Julia was very angry with her husband once she found his facebook out going message to another girl in intimate conversation. She was furious and threats him for further investigation and discloses his secret to his parents and authority.

This situation in fact has changed her husband into someone stranger to her. A hearted gentle soul now has turned into bestial rude soul. He is now frequently upset with his two years old son. Not in once make sweet talks and intimate discussion with his wife as usual.

Julia herself is only a housewife. She was graduated from high school before she tried to State Academic and failed. The two of them were once class mate in high school. The fortune was on her husband side, he was accepted for diploma study for one year on state academic. Once he was graduated, the state locate his position on a remote district in East Kalimantan.

For some of Sumatranese parents, having their son working in such remote. Make them worried, especially if their bachelor son get click with Dayaknese woman. Then they made them into a marriage just before their son got on state duty. Not long after that they got son and reunion in that remote district. Into their expectation, they have got an opportunity to serve on the capital city in Sumatra.

Fortune has changed to misfortune. One moment they sees life on the track with their expectations. The third person came to her husband ‘s life. So back to my wife’s question, she was asking for some advices from me.

I said to my wife. Who are we being asked for such situation? We ve got only two years of marriage. But personally I would share my subjective male’s view.

As a male, men are tending to attract physically with ‘attractive woman’. This attractiveness can be viewed as physical, eloquent speech, knowledge and emotional. These items move men to approach female, in some context men try to conquer and own this whole attractiveness for him self. These whole situations are dilemmatic for a house wife. Julia was suffered only being treated as baby sitter for their son and house keeper for her husband.

Syakh Hamza Yusuf, he once was asked for similar family consultation. He then asked the couple. When was the last time you had intercourse? He then said, one of family unity is build above conjugal activities. On Julia case, according to her words, her husband used to throw his face from her. Her dilemmatic position is on her child. She doesn’t want to sacrifice her son's childhood if she divorce him.

My immediate response to this, I said to my wife, that she should consult with someone more senior on marriage. The golden and silver couples are people who have been sailed through storm and still weather. They might come out with beautiful solution.

Then, I said the ‘Four Men’s Rule of attractiveness’. One, she should try to forgive and forget no matter how difficult the situation is. This first rule requires her not to seek and investigate further about the truth. Put in mind that her husband is only doing good deeds for the family.

Second, she should try to appeal physically. Dress nicely for night time. Trim all the extra hair and apply perfume to perfect the performance. Think for services and do not expect immediate feed back immediately.

Third, find some way to enrich your knowledge, skills and competency. Everybody has got their own strength naturally. You need to find that and exploit to the fullness. Try to be independence with your husband income but do not be selfish person. You need to stretch you patience ness on this attractive rule.

Fourth, Once you have got the whole what men’s attract for. Do manage your family especially your child health and education whole heartedly. Now then you are the most attractive woman, mother and girlfriend. There is only foolish men who don’t want conquer such woman like that. Beautify your inner and outer. Do not think that you put yourself lower in this situation, but this whole thing what I called the ‘Four Men’s rule of Attractiveness’. And you are one of them.

-Insight Market-ing, Life and Conservation Journal-
Sunday, 20th June 2009/ Uncle Fakhrizal
@:^)

LSM Lingkungan is a service business!


Dunia konservasi, siklus darah, nadi dan jantungnya berdenyut karena marketing. Alasannya ada dua. Pertama organisasi internasional seperti TNC dan lembaga konservasi afiliasi asing lainnya berfungsi secara fungsional karena ada interkoneksi antara perusahaan sebagai entitas bisnis, masyarakat dan pemerintah. Kedua, lembaga konservasi apapun harus dapat menjual ‘produk’ konservasi kepada ‘pelanggan’.

LSM Lingkungan sebetulnya adalah the real service company. Produk utama adalah servis lingkungan, berupa terjaganya tata fungsi air, iklim mikro dan eksistensi dari sumber daya alam flora dan fauna yang baik. Pelanggan adalah dari masyarakat sekitar hutan sampai masyarakat perkotaan, dari pedagang madu hutan sampai IKEA, dari pemerintah daerah sampai pemerintahan Barack Obama, dari Orangutan sampai Irawady dolphin.

Lembaga seperti TNC, interkoneksi ini dapat dilihat dari kolaborasi yang dibangun pada program RAFT, Komunitas dan REDD. Sehingga ulasan yang saya niatkan akan dibuat secara rutin :^) mencoba mengupas perspektif individu mengenai perjalanan program dan insight dua terminology yang menjadi makanan kita setiap hari, yaitu market-ing dan konservasi.

Pak Hermawan, guru marketing Indonesia, pernah membuat statement. “Marketing is too important for marketing department!”. Peter F. Drucker pernah menulis bahwa “Only marketing and innovation are important for business. The other are the cost!”. Pride campaign mencoba memasarkan konservasi dengan meng-inspire masyarakat.

Diilhami oleh dua orang maha guru dan satu lembaga diatas, maka saya pikir perlu mengadaptasi redefinisi pengertian marketing yang pas untuk dagang konservasi. Sebagai staff The Nature Conservancy yang mengagumi teori marketing, saya akan mencoba menjelaskan pengertian marketing pada proporsi yang pas, atau dipas-paskan. Karena pengertian marketing secara tradisional adalah sebuah fungsi. Bukan bersifat strategic korporat.

Nah sekali lagi, menjadi “the real service NGO” seperti ini merupakan keputusan langitan! Sampai seberapa jauh, semua orang harus punya sense of service sangat tergantung pada CEO-nya! Kalau Cuma middle management yang mau begitu, tidak akan bisa jalan.

Hanya dengan punya sense of service inilah brand konservasi akan jadi kuat dan tetap kuat! Mengapa? Karena kalau brand membentuk persepsi di benak konsumen, sense of service inilah yang mem-back-up persepsi itu dengan terus-menerus berusaha memenuhi harapan konsumen, lebih dari pesaing!
Dengan demikian, service juga bukan bagain dari produk tapi justru merupakan sesuatu yang bisa membuat produk dari suatu brand akan tetap bernilai tinggi.

Lantas? Supaya sebuah lembaga bisa jadi “the real service company”, semua proses, terutama cross-functional processes, harus berlangsung cepat, efektif, dan efisiensi!

Dalam situasi persaingan, tantangan dan kompleksitas bisnis yang sudah meningkat, proses untuk memberikan nilai tinggi pada konsumen tidak bisa dilakukan oleh departmen marketing dan philanthropy saja.

Penggunaan teknologi informasi antarfungsi, melatih kembali sumberdaya menjadi manusia multifungsi, dan terutama memberikan suatu wawasan berpikir bahawa semua orang bertanggungjawab atas penciptaan nilai tidak bisa dilakukan atau dikomando oleh divisi marketing, komunikasi dan philanthropy. Ini adalah urusan pimpinan tertinggi. Dan susahnya antara brand, service dan process ini memang terjadi hubungan yang sangat kuat! Tanpa proses yang bisa menghasilkan nilai tertentu untuk konsumen secara cepat, efektif dan efisien, lembaga tidak akan bisa menjadi the real service NGO. Tanpa the real service NGO, citra yang disandang akan luntur. Mengapa? Karena lingkungan bisnis berubah terus! Karena itu ancaman bergerak terus dan konsumen akan menuntut nilai yang lebih besar terus-menerus.

Hanya proses yang baiklah yang bisa membuat sebuah perusahaan jadi adaptif terhadap perubahan besar tersebut. Dan yang penting bukan cuma adapatif, tapi harus bisa jadi perusahaan yang bakal mempengaruhi perubahan lingkungan bisnis itu sendiri!

Kalo sudah begini, apakah proses bisa dipisahkan dari service dan brand? Ada lembaga yang memang kuat pada brand, seperti lembaga lingkungan dengan brand totok species-centric. Tentu tidak! Pengertian marketing tradisional Cuma menyangkut brand. Itupun ada anggapan bahwa brand adalah bagian dari produk. Jelas hal tersebut tidak tepat lagi.

Ketiga elemen pertama yang penting adalah brand, service dan proses. Kemudian ditambah tiga elemen esensial yang memberikan nilai kepada konsumen. Karena itu, brand, service dan proses harus menjadi tiga sila dari pengertian marketing baru. Itulah yang membedakan dengan konsep tradisional.

Selebihnya ada tiga elemen strategi yaitu segmentasi, targeting dan positioning. Dan tiga elemen taktik yaitu differensiasi, marketing-mix dan selling.

Mudah-mudahan, artikel ini merupakan sekelumit sumbangsih dari seorang staff kantoran yang bekerja di Berau untuk dunia marketing.

-Insight Market-ing, Life and Conservation Journal-Sunday, 7th June 2009/ Abang Fakhrizal
@:^)

MEMPERTAHANKAN KESETIAAN MITRA KONSERVASI


Dalam istilah pemasaran mitra dikenal sebagai ‘pelanggan’. Seorang pelanggan atau partner harus diajak diskusi demi kemajuan bersama. Pelanggan tidak bisa lagi diperlukan sebagai client atau sekadar consumer atau buyer.

Loyalitas buta atau blind loyalty seorang konservasionist dalam bentuk knowledge attitude dan practice, sebagai contoh dari pembicaraan bangun tidur, baju yang dipakai dan update berita seluruhnya mengenai berita seputar ‘konservasi’. Lebih extreme bentuk mono loyalitas menjadi pemerintah good governance dan perusahaan hijau.

Brand loyalty harus diperjuangkan. Apabila tidak, akan semakin sulit untuk bertahan di kondisi chaos dengan serangan bertubi-tubi dari krisis ekonomi dan perampingan organisasi.

Usaha lembaga harus berupaya untuk menghasilkan suatu brand loyalty. Bagi David Aaker, pakar brand, ekuitas suatu brand sangat dipengaruhi oleh berapa banyak orang sudah setia pada brand tersebut. Mengapa? Karena orang yang sudah setia akan mau ‘membeli’ dengan ‘harga lebih mahal’. Selain itu, orang yang sudah setia bisa mengajak orang lain untuk membeli brand tersebut.

Orang yang sudah setia tidak bisa melihat brand lain. Perhatiannya hanya ada pada brand tersebut. Orang yang sudah setia bahkan mau dimanfaatkan kalau pada suatu ketika terjadi brand erosion.

Masalahnya sekarang adalah bagaimana menghasilkan brand loyalty yang sangat vital itu? Tentunya dengan cara memuaskan orang yang sudah mencoba, menggunakan, bahkan mengadopsi brand tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Brand loyalty tidak bisa timbul pada orang belum jadi user. Mana ada non-user bisa loyal.

Periklanan dan segala jenis komunikasi lewat media apa pun, hanya akan bermanfaat untuk menciptakan awareness, association, dan perceived quality. Tapi kontribusi terhadap brand loyalty tidak terlalu besar.

Orang yang sudah puas akan suatu brand, maka akan lebih yakin kalau selalu melihat exposure brand tersebut secara terus-menurs dan dimana-mana. Tapi kontribusi terbesar dari brand loyalty, biasanya datang dari program konservasi itu sendiri.

Persepsi seorang user dan non user terhadap sebuah brand biasanya berbeda. Karena itu komunikasi terhadap non user akan lebih bermanfaat untuk meng-convert jadi user. Sedang komunikasi pada user lebih bersifat memantapkan , mendengar bahkan mendidik mereka.

Memantapkan berarti anda perlu terus menekankan citra yang ingin dicapai. Mendengar, berarti anda perlu melakukan pengamatan terhadap perubahan selera, profesi, maupun perilaku pelanggan.

Sedang mendidik berarti mungkin saja anda justru harus memberitahukan pada mereka tentang suatu produk baru yang bahkan tidak pernah mereka minta sebelumnya.

Bermitra dengan pelanggan berarti memantapkan keyakinan dia, selalu berinteraksi, bila perlu mengembangkan, demi kemajuan bersama. Hanya lewat cara inilah, lembaga konservasi bisa mempertahankan kesetiaan partner.

-Insight Market-ing, Life and Conservation-Sunday, 7th June 2009/Abang Fakhrizal
@:^)