Dunia konservasi, siklus darah, nadi dan jantungnya berdenyut karena marketing. Alasannya ada dua. Pertama organisasi internasional seperti TNC dan lembaga konservasi afiliasi asing lainnya berfungsi secara fungsional karena ada interkoneksi antara perusahaan sebagai entitas bisnis, masyarakat dan pemerintah. Kedua, lembaga konservasi apapun harus dapat menjual ‘produk’ konservasi kepada ‘pelanggan’.
LSM Lingkungan sebetulnya adalah the real service company. Produk utama adalah servis lingkungan, berupa terjaganya tata fungsi air, iklim mikro dan eksistensi dari sumber daya alam flora dan fauna yang baik. Pelanggan adalah dari masyarakat sekitar hutan sampai masyarakat perkotaan, dari pedagang madu hutan sampai IKEA, dari pemerintah daerah sampai pemerintahan Barack Obama, dari Orangutan sampai Irawady dolphin.
Lembaga seperti TNC, interkoneksi ini dapat dilihat dari kolaborasi yang dibangun pada program RAFT, Komunitas dan REDD. Sehingga ulasan yang saya niatkan akan dibuat secara rutin :^) mencoba mengupas perspektif individu mengenai perjalanan program dan insight dua terminology yang menjadi makanan kita setiap hari, yaitu market-ing dan konservasi.
Pak Hermawan, guru marketing Indonesia, pernah membuat statement. “Marketing is too important for marketing department!”. Peter F. Drucker pernah menulis bahwa “Only marketing and innovation are important for business. The other are the cost!”. Pride campaign mencoba memasarkan konservasi dengan meng-inspire masyarakat.
Diilhami oleh dua orang maha guru dan satu lembaga diatas, maka saya pikir perlu mengadaptasi redefinisi pengertian marketing yang pas untuk dagang konservasi. Sebagai staff The Nature Conservancy yang mengagumi teori marketing, saya akan mencoba menjelaskan pengertian marketing pada proporsi yang pas, atau dipas-paskan. Karena pengertian marketing secara tradisional adalah sebuah fungsi. Bukan bersifat strategic korporat.
Nah sekali lagi, menjadi “the real service NGO” seperti ini merupakan keputusan langitan! Sampai seberapa jauh, semua orang harus punya sense of service sangat tergantung pada CEO-nya! Kalau Cuma middle management yang mau begitu, tidak akan bisa jalan.
Hanya dengan punya sense of service inilah brand konservasi akan jadi kuat dan tetap kuat! Mengapa? Karena kalau brand membentuk persepsi di benak konsumen, sense of service inilah yang mem-back-up persepsi itu dengan terus-menerus berusaha memenuhi harapan konsumen, lebih dari pesaing!
Dengan demikian, service juga bukan bagain dari produk tapi justru merupakan sesuatu yang bisa membuat produk dari suatu brand akan tetap bernilai tinggi.
Lantas? Supaya sebuah lembaga bisa jadi “the real service company”, semua proses, terutama cross-functional processes, harus berlangsung cepat, efektif, dan efisiensi!
Dalam situasi persaingan, tantangan dan kompleksitas bisnis yang sudah meningkat, proses untuk memberikan nilai tinggi pada konsumen tidak bisa dilakukan oleh departmen marketing dan philanthropy saja.
Penggunaan teknologi informasi antarfungsi, melatih kembali sumberdaya menjadi manusia multifungsi, dan terutama memberikan suatu wawasan berpikir bahawa semua orang bertanggungjawab atas penciptaan nilai tidak bisa dilakukan atau dikomando oleh divisi marketing, komunikasi dan philanthropy. Ini adalah urusan pimpinan tertinggi. Dan susahnya antara brand, service dan process ini memang terjadi hubungan yang sangat kuat! Tanpa proses yang bisa menghasilkan nilai tertentu untuk konsumen secara cepat, efektif dan efisien, lembaga tidak akan bisa menjadi the real service NGO. Tanpa the real service NGO, citra yang disandang akan luntur. Mengapa? Karena lingkungan bisnis berubah terus! Karena itu ancaman bergerak terus dan konsumen akan menuntut nilai yang lebih besar terus-menerus.
Hanya proses yang baiklah yang bisa membuat sebuah perusahaan jadi adaptif terhadap perubahan besar tersebut. Dan yang penting bukan cuma adapatif, tapi harus bisa jadi perusahaan yang bakal mempengaruhi perubahan lingkungan bisnis itu sendiri!
Kalo sudah begini, apakah proses bisa dipisahkan dari service dan brand? Ada lembaga yang memang kuat pada brand, seperti lembaga lingkungan dengan brand totok species-centric. Tentu tidak! Pengertian marketing tradisional Cuma menyangkut brand. Itupun ada anggapan bahwa brand adalah bagian dari produk. Jelas hal tersebut tidak tepat lagi.
Ketiga elemen pertama yang penting adalah brand, service dan proses. Kemudian ditambah tiga elemen esensial yang memberikan nilai kepada konsumen. Karena itu, brand, service dan proses harus menjadi tiga sila dari pengertian marketing baru. Itulah yang membedakan dengan konsep tradisional.
Selebihnya ada tiga elemen strategi yaitu segmentasi, targeting dan positioning. Dan tiga elemen taktik yaitu differensiasi, marketing-mix dan selling.
Mudah-mudahan, artikel ini merupakan sekelumit sumbangsih dari seorang staff kantoran yang bekerja di Berau untuk dunia marketing.
-Insight Market-ing, Life and Conservation Journal-Sunday, 7th June 2009/ Abang Fakhrizal
@:^)
LSM Lingkungan sebetulnya adalah the real service company. Produk utama adalah servis lingkungan, berupa terjaganya tata fungsi air, iklim mikro dan eksistensi dari sumber daya alam flora dan fauna yang baik. Pelanggan adalah dari masyarakat sekitar hutan sampai masyarakat perkotaan, dari pedagang madu hutan sampai IKEA, dari pemerintah daerah sampai pemerintahan Barack Obama, dari Orangutan sampai Irawady dolphin.
Lembaga seperti TNC, interkoneksi ini dapat dilihat dari kolaborasi yang dibangun pada program RAFT, Komunitas dan REDD. Sehingga ulasan yang saya niatkan akan dibuat secara rutin :^) mencoba mengupas perspektif individu mengenai perjalanan program dan insight dua terminology yang menjadi makanan kita setiap hari, yaitu market-ing dan konservasi.
Pak Hermawan, guru marketing Indonesia, pernah membuat statement. “Marketing is too important for marketing department!”. Peter F. Drucker pernah menulis bahwa “Only marketing and innovation are important for business. The other are the cost!”. Pride campaign mencoba memasarkan konservasi dengan meng-inspire masyarakat.
Diilhami oleh dua orang maha guru dan satu lembaga diatas, maka saya pikir perlu mengadaptasi redefinisi pengertian marketing yang pas untuk dagang konservasi. Sebagai staff The Nature Conservancy yang mengagumi teori marketing, saya akan mencoba menjelaskan pengertian marketing pada proporsi yang pas, atau dipas-paskan. Karena pengertian marketing secara tradisional adalah sebuah fungsi. Bukan bersifat strategic korporat.
Nah sekali lagi, menjadi “the real service NGO” seperti ini merupakan keputusan langitan! Sampai seberapa jauh, semua orang harus punya sense of service sangat tergantung pada CEO-nya! Kalau Cuma middle management yang mau begitu, tidak akan bisa jalan.
Hanya dengan punya sense of service inilah brand konservasi akan jadi kuat dan tetap kuat! Mengapa? Karena kalau brand membentuk persepsi di benak konsumen, sense of service inilah yang mem-back-up persepsi itu dengan terus-menerus berusaha memenuhi harapan konsumen, lebih dari pesaing!
Dengan demikian, service juga bukan bagain dari produk tapi justru merupakan sesuatu yang bisa membuat produk dari suatu brand akan tetap bernilai tinggi.
Lantas? Supaya sebuah lembaga bisa jadi “the real service company”, semua proses, terutama cross-functional processes, harus berlangsung cepat, efektif, dan efisiensi!
Dalam situasi persaingan, tantangan dan kompleksitas bisnis yang sudah meningkat, proses untuk memberikan nilai tinggi pada konsumen tidak bisa dilakukan oleh departmen marketing dan philanthropy saja.
Penggunaan teknologi informasi antarfungsi, melatih kembali sumberdaya menjadi manusia multifungsi, dan terutama memberikan suatu wawasan berpikir bahawa semua orang bertanggungjawab atas penciptaan nilai tidak bisa dilakukan atau dikomando oleh divisi marketing, komunikasi dan philanthropy. Ini adalah urusan pimpinan tertinggi. Dan susahnya antara brand, service dan process ini memang terjadi hubungan yang sangat kuat! Tanpa proses yang bisa menghasilkan nilai tertentu untuk konsumen secara cepat, efektif dan efisien, lembaga tidak akan bisa menjadi the real service NGO. Tanpa the real service NGO, citra yang disandang akan luntur. Mengapa? Karena lingkungan bisnis berubah terus! Karena itu ancaman bergerak terus dan konsumen akan menuntut nilai yang lebih besar terus-menerus.
Hanya proses yang baiklah yang bisa membuat sebuah perusahaan jadi adaptif terhadap perubahan besar tersebut. Dan yang penting bukan cuma adapatif, tapi harus bisa jadi perusahaan yang bakal mempengaruhi perubahan lingkungan bisnis itu sendiri!
Kalo sudah begini, apakah proses bisa dipisahkan dari service dan brand? Ada lembaga yang memang kuat pada brand, seperti lembaga lingkungan dengan brand totok species-centric. Tentu tidak! Pengertian marketing tradisional Cuma menyangkut brand. Itupun ada anggapan bahwa brand adalah bagian dari produk. Jelas hal tersebut tidak tepat lagi.
Ketiga elemen pertama yang penting adalah brand, service dan proses. Kemudian ditambah tiga elemen esensial yang memberikan nilai kepada konsumen. Karena itu, brand, service dan proses harus menjadi tiga sila dari pengertian marketing baru. Itulah yang membedakan dengan konsep tradisional.
Selebihnya ada tiga elemen strategi yaitu segmentasi, targeting dan positioning. Dan tiga elemen taktik yaitu differensiasi, marketing-mix dan selling.
Mudah-mudahan, artikel ini merupakan sekelumit sumbangsih dari seorang staff kantoran yang bekerja di Berau untuk dunia marketing.
-Insight Market-ing, Life and Conservation Journal-Sunday, 7th June 2009/ Abang Fakhrizal
@:^)
No comments:
Post a Comment