Dalam istilah pemasaran mitra dikenal sebagai ‘pelanggan’. Seorang pelanggan atau partner harus diajak diskusi demi kemajuan bersama. Pelanggan tidak bisa lagi diperlukan sebagai client atau sekadar consumer atau buyer.
Loyalitas buta atau blind loyalty seorang konservasionist dalam bentuk knowledge attitude dan practice, sebagai contoh dari pembicaraan bangun tidur, baju yang dipakai dan update berita seluruhnya mengenai berita seputar ‘konservasi’. Lebih extreme bentuk mono loyalitas menjadi pemerintah good governance dan perusahaan hijau.
Brand loyalty harus diperjuangkan. Apabila tidak, akan semakin sulit untuk bertahan di kondisi chaos dengan serangan bertubi-tubi dari krisis ekonomi dan perampingan organisasi.
Usaha lembaga harus berupaya untuk menghasilkan suatu brand loyalty. Bagi David Aaker, pakar brand, ekuitas suatu brand sangat dipengaruhi oleh berapa banyak orang sudah setia pada brand tersebut. Mengapa? Karena orang yang sudah setia akan mau ‘membeli’ dengan ‘harga lebih mahal’. Selain itu, orang yang sudah setia bisa mengajak orang lain untuk membeli brand tersebut.
Orang yang sudah setia tidak bisa melihat brand lain. Perhatiannya hanya ada pada brand tersebut. Orang yang sudah setia bahkan mau dimanfaatkan kalau pada suatu ketika terjadi brand erosion.
Masalahnya sekarang adalah bagaimana menghasilkan brand loyalty yang sangat vital itu? Tentunya dengan cara memuaskan orang yang sudah mencoba, menggunakan, bahkan mengadopsi brand tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Brand loyalty tidak bisa timbul pada orang belum jadi user. Mana ada non-user bisa loyal.
Periklanan dan segala jenis komunikasi lewat media apa pun, hanya akan bermanfaat untuk menciptakan awareness, association, dan perceived quality. Tapi kontribusi terhadap brand loyalty tidak terlalu besar.
Orang yang sudah puas akan suatu brand, maka akan lebih yakin kalau selalu melihat exposure brand tersebut secara terus-menurs dan dimana-mana. Tapi kontribusi terbesar dari brand loyalty, biasanya datang dari program konservasi itu sendiri.
Persepsi seorang user dan non user terhadap sebuah brand biasanya berbeda. Karena itu komunikasi terhadap non user akan lebih bermanfaat untuk meng-convert jadi user. Sedang komunikasi pada user lebih bersifat memantapkan , mendengar bahkan mendidik mereka.
Memantapkan berarti anda perlu terus menekankan citra yang ingin dicapai. Mendengar, berarti anda perlu melakukan pengamatan terhadap perubahan selera, profesi, maupun perilaku pelanggan.
Sedang mendidik berarti mungkin saja anda justru harus memberitahukan pada mereka tentang suatu produk baru yang bahkan tidak pernah mereka minta sebelumnya.
Bermitra dengan pelanggan berarti memantapkan keyakinan dia, selalu berinteraksi, bila perlu mengembangkan, demi kemajuan bersama. Hanya lewat cara inilah, lembaga konservasi bisa mempertahankan kesetiaan partner.
-Insight Market-ing, Life and Conservation-Sunday, 7th June 2009/Abang Fakhrizal
@:^)
Loyalitas buta atau blind loyalty seorang konservasionist dalam bentuk knowledge attitude dan practice, sebagai contoh dari pembicaraan bangun tidur, baju yang dipakai dan update berita seluruhnya mengenai berita seputar ‘konservasi’. Lebih extreme bentuk mono loyalitas menjadi pemerintah good governance dan perusahaan hijau.
Brand loyalty harus diperjuangkan. Apabila tidak, akan semakin sulit untuk bertahan di kondisi chaos dengan serangan bertubi-tubi dari krisis ekonomi dan perampingan organisasi.
Usaha lembaga harus berupaya untuk menghasilkan suatu brand loyalty. Bagi David Aaker, pakar brand, ekuitas suatu brand sangat dipengaruhi oleh berapa banyak orang sudah setia pada brand tersebut. Mengapa? Karena orang yang sudah setia akan mau ‘membeli’ dengan ‘harga lebih mahal’. Selain itu, orang yang sudah setia bisa mengajak orang lain untuk membeli brand tersebut.
Orang yang sudah setia tidak bisa melihat brand lain. Perhatiannya hanya ada pada brand tersebut. Orang yang sudah setia bahkan mau dimanfaatkan kalau pada suatu ketika terjadi brand erosion.
Masalahnya sekarang adalah bagaimana menghasilkan brand loyalty yang sangat vital itu? Tentunya dengan cara memuaskan orang yang sudah mencoba, menggunakan, bahkan mengadopsi brand tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Brand loyalty tidak bisa timbul pada orang belum jadi user. Mana ada non-user bisa loyal.
Periklanan dan segala jenis komunikasi lewat media apa pun, hanya akan bermanfaat untuk menciptakan awareness, association, dan perceived quality. Tapi kontribusi terhadap brand loyalty tidak terlalu besar.
Orang yang sudah puas akan suatu brand, maka akan lebih yakin kalau selalu melihat exposure brand tersebut secara terus-menurs dan dimana-mana. Tapi kontribusi terbesar dari brand loyalty, biasanya datang dari program konservasi itu sendiri.
Persepsi seorang user dan non user terhadap sebuah brand biasanya berbeda. Karena itu komunikasi terhadap non user akan lebih bermanfaat untuk meng-convert jadi user. Sedang komunikasi pada user lebih bersifat memantapkan , mendengar bahkan mendidik mereka.
Memantapkan berarti anda perlu terus menekankan citra yang ingin dicapai. Mendengar, berarti anda perlu melakukan pengamatan terhadap perubahan selera, profesi, maupun perilaku pelanggan.
Sedang mendidik berarti mungkin saja anda justru harus memberitahukan pada mereka tentang suatu produk baru yang bahkan tidak pernah mereka minta sebelumnya.
Bermitra dengan pelanggan berarti memantapkan keyakinan dia, selalu berinteraksi, bila perlu mengembangkan, demi kemajuan bersama. Hanya lewat cara inilah, lembaga konservasi bisa mempertahankan kesetiaan partner.
-Insight Market-ing, Life and Conservation-Sunday, 7th June 2009/Abang Fakhrizal
@:^)
No comments:
Post a Comment