Wednesday, November 10, 2010

Emotional Intelligence Diversity


Spiritualitas sekarang banyak dibicarakan bukan saja di lorong masjid, surau ataupun langgar, namun sudah hadir pada diskusi eksekutif, kelas professional dan bagi sebagian karyawan LSM Internasional seperti saya. Di negara kita salah satu lembaga kondang untuk membicarakan topik ini diasuh oleh pak Ary Ginanjar Agustian dengan 165 yang populer dan God Spot nya yang merontokkan semua rasio manusia. Di luar negeri istilah 'respiritualizing human' juga sudah menjadi bahan diskusi seperti yang digarap oleh eidi-emotional intelligence and diversity insititute, sebuah lembaga yang basisnya berada di Los Angeles, California, AS.


Dalam workshop kepemimpinan kali ini, saya dan kawan-kawan lembaga seasia pasifik berkumpul di kota Melbourne, sebuah kota padat yang berlokasi di bagian selatan benua Australia. Perjalanan dengan 6 jam pesawat non stop dari Bandara Soetta, Banten. Menurut eidi, kepribadian seseorang dibentuk dipengaruhi oleh tiga lapisan, pertama disebut dengan dimensi internal. Dimensi yang terdiri dari pengaruh suku, ras, kemampuan fisik, umur, jenis kelamin dan orentasi seksual. Dimensi kedua terdiri dari lokasi geografis, pendapatan, kebiasaan pribadi, kebiasaan saat berekreasi, agama, latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, penamiplan, status pengasuhan, status perkawinan. Sedangkan aspek terakhir yaitu dimensi organisasional, yaitu tingkat fungsi atau klasifikasi pekerjaan, kemampuan isi pekerjaan, divisi, senioritas, lokasi bekerja, afiliasi politik dan status pengelolaan.


Ketiga aspek tersebut bersama-sama membuat manusia berfungsi secara emosional dan rasional. Emosi biasanya ada pada jantung energi kita, komitmen dan motivasi. Perasaan berpengaruh pada pembentukan reaksi kita pada perbedaan yang kita alami untuk orang lain, apakah kita akan mendekati atau menghindari, menyukai atau membenci, menerima atau menolaknya. Semakin kita memahami dan mengelola bagaimana respon emosi kita, semakin kita dapat menikmati kenyamanan dalam membangun sebuah hubungan, efektifitas dalam sebuah interaksi dan kedamaian dalam diri.


Melbourne, 10 November 2010

Wednesday, October 13, 2010

Tenaga Survey opo Survey Ilmiah

LSM International dengan pendekatan sains memiliki harapan kuat untuk melatih tenaga survey, proses pendidikan, capacity building, penelitian, pengembangan metodologi pengambilan data bagaimana menjadi intervensi untuk Land Use manager. Peran seperti itu kemudian menjadi melembaga menjadi suatu unit survey. Reposisi peran tim survey penting karena menentukan input arah program kedepan.

Akumulasi metodologi standar sudah diperkaya dengan jam terbang tinggi dapat memberikan penambahan nilai untuk modifikasi. Survey menghasilkan data, data menjadi informasi, informasi menjadi hasil analisa, hasil analisa bisa menjadi rekomendasi kebijakan.

Seharusnya lembaga menghargai diri sendiri, untuk meningkatkan nilai jual profesi dan personal tim. Komoditas data penelitian dapat berupa menjadi produk cerita dari lapangan, pengalaman-pengalaman dan buku panduan lapangan.

Penyajian dan ekspose hasil penelitian sebetulnya disajikan dalam bentuk sederhana sambil memperkenalkan identitas tim survey. Selama ini tim survey mendukung Science (riset), Comdev (community organizer), Komunikasi (data/informasi management), Program (capacity building/riset) secara sederahana semua dapat dilakukan pada core competency Survey Biodiversity. Bagaimana menjual adalah dengan membuat kemasan tersebut hadir dalam bentuk poster, booklet, field guide dan hasil identifikasi sederhana.


 

Tanjung Redeb, 13 Oktober 2010

Tuesday, October 12, 2010

Pekerjaan Satu Hari

Pekerja dan pekerjaannya membutuhkan upaya bekerja agar cepat hasil dan selesai, kerja gak lagi dengan keringat jaman sekarang trend untuk bekerja cerdas-smart dan bekerja cepat!. Tapi yang namanya dunia, the city that never sleeps, tidak akan pernah berakhir. Pekerjaan besok jangan pernah ditunda besok, karena besok akan membuahkan sebuah pekerjaan baru. Bekerja seperti kuda, di pacu dicambuk dan dipecut, mungkin masih relevan, deadline mengejar-ngejar dan diujung pintu kantor sudah ditunggu oleh laporan bulanan.

Pada hakikatnya pekerjaan yang tidak pernah berakhir itu adalah waktu kita, pertemuan antara kurva sigma umur badan kita dan sisa jatah waktu tinggal di dunia. Kita akan tersentak kelak dengan cepatnya waktu berlalu mengejar emas, kursi dan wanita, sampai kemudian kita tersadar ketika tangan mungil, mata kejora dan mulut cadel itu berubah menjadi sosok manusia dewasa dengan anak-anak mereka di kanan dan kirinya. Apakah pada waktu reuni itu nanti mereka akan ingat berapa banyak emas dan kursi yang berhasil kita bawa pulang, atau wanita yang membuat kita mabuk, ataukah mereka akan mengenang suatu pagi yang dihabiskan bersama dengan canda dan tawa lepas, suatu kenangan manis di sore hari di dekat semak berry hutan, ketika malam bercerita kisah seorang pangeran tampan menunggang kuda coklat membawa sekeranjang madu itu? Entahlah


 

Tanjung Redeb, 12 Oktober 2010

Saturday, October 9, 2010

Building Human Blocks


Bangunan Mulia

Nabi Muhammad SAW menghabiskan banyak waktu untuk membangun sebuah jembatan, bangunan yang kokoh yang mebuat perubahan peradaban manusia. Nabi SAW pernah berkata, saya merindukan orang yang sangat dicintai, sahabat bertanya bukankan kami orang yang dicintai, nabi SAW menjawab kamu adalah sahabatku dan saya mencintai Al Ahbab, orang yang mencintai Nabi SAW walaupun tidak pernah bertemu denganku.

Proses pembangunan jembatan hati membutuhkan kita sebagai orangtua untuk membaca, bahkan orang yang belum menikahpun dapat membaca tentang pernikahan, tentang parenting dsb. Nabi SAW bersabda, barang siapa yang dapat mendidik 3 anak perempuan dengan baik maka dia akan masuk surge. Jadi kenapa tidak tujuan mulia hidupku adalah memberikan yang terbaik menjadikan mereka anak laki-laki dan perempuan yang lebih baik, sambil memvisualkan bahwa merekalah yang akan membuka pintu surga sambil berkata, silahkan masuk ayahanda.

Mulailah dengan mencintai anak dan masuklah dengan iman. Semeni dengan batu bata ibadah. Manifestasi semua itu adalah perilaku, tingkah laku, ahlak, moral, adab. Konsep moral akan terbangun diatas konsep ibadah, apabila tidak maka konsep itu akan kosong, labil dan palsu. Ahlak nabi Muhammad SAW adalah adzim, Agung, kata yang digunakan Tuhan yang levelnya sama dengan keagungan Tuhan, AlQuran, Adzab, Hari Akhirat dsb. Radiasi ahlak tersebut tidak saja merubah jiwa manusia namun juga teradiasi pada mahluk hidup dan tanaman.

Nabi SAW tidak pernah menyalahkan Annas r.a ketika beliau diminta melakukan sesuatu dan diperintah orang lain. Beliau SAW mengajarkan taqdir secara konstruktif, bahwa Alloh swt tidak mengizinkan hal tersebut terjadi, namun dihari kemudian hal tersebut bisa terjadi berbeda apabila anak tersebut melakukan hal dengan cara yang berbeda.


 

Tanjung Redeb, 09 Oktober 2010

Friday, October 8, 2010

Bekerja Tanpa Hati

Penyakit sering hadir pada air tergenang, ketika ia bergerak dalam aliran sungai, air tersebut menjadi sehat kembali. Seperti halnya air, dalam organisasi saya kok merasa hal yang sama kalo 'menetap' terlalu lama, konsekuensi bekerja ala si 'mukimin' dan 'muhajir' akan memberikan dampak yang berbeda pada organisasi tersebut. Mukimin biasanya ahli sejarah perjalanan organisasi, kenal watak tetangga rumah, tau gossip yang berkembang sampai dinamika politik kantor. Muhajir, sebagai pendatang melihat komunitas yang ada sebagai tetangga baru, optimisme, peluang hidup, belajar kultur setempat, idealnya membawa perubahan terhadap tempat tersebut.


 

Sasaran intervensi semua kata benda nilai sebuah lokasi konservasi, Biodiversity, Livelihood, Land Use Management, Policy and institution, Sustainable Financing. Sasaran intervensi ibarat amunisi. Apa senjatanya? Science knowledge management, spatial planning, Community development, Campaign and advocacy ditambah governance, communication, learning and application dan operations.


 

Yang perlu dibangun dalam membangun sebuah pencapaian organisasi yang baru adalah bangunan road map intervensi dan approach. Road map tersebut merupakan islah antara mukimin dan muhajirin. Sebuah islah yang dapat mendamaikan masa sejarah yang dialami si mukimin dan ide-ide baru perubahan si muhajirin. Gap tersebut adalah jurang, dan islah adalah jembatan untuk mempertemukan kedua tepi jurang tersebut.


 

Samarinda, 08 Oktober 2010

Thursday, October 7, 2010

Modal Awal

Nafsu dan kemampuan perubahan arah, changing the course, perlu menukik melihat model masa lalu yang dibangun dengan responsive dan adaptif sesuai dengan kebutuhan lapangan. Modal awal disebut dengan Sasaran Intervensi dan arah perubahan dapat menggunakan approach. Sasaran intervensi dari fokus area, semua kata benda, yaitu Biodiversity, Livelihood, Land Use Management, Policy and Institution dan Sustainable Financing (Duit Bunga Berbunga). Adapun approach berupa pendekatan Science Knowledge Management, Spatial Planning, Community Development, and Campaign and Advocacy.

Organisasi petaka dimulai apabila leadership style tidak bisa melakukan konsesus dan rekonsiliasi antara basis sasaran intervensi dan approach baru yang akan dilakukan. Seorang pemimpin yang jeli akan dapat membuat perubahan arah yang paling,smooth through process. Perubahan adalah kebutuhan karena kita hidup dan karena kita exist!

Lupa Diri

Kehidupan dalam gerbong waktu, seakan lenaan nyanyian dan tontonan hiburan dalam kereta waktu, kita lupa pada kesadaran diri terhadap realitas alam dunia.

Betapa buah dari kesadaran tentang siapakah saya dan Tuhan sangat mahal atau kalo boleh tak terhingga ruang dan waktu maknanya. Sebuah perjalanan hidup yang tidak tergantikan oleh senangnya dunia, ternyata uang kita tidak dapat membeli waktu, sampai ada proverb jarak terjauh adalah sekarang dan masa lalu.

Governance partnership is a key to successful life, pada hakikatnya bagaimana menggunakan perspektif governance pada hidup dan pekerjaan keseharian kita.

Kepentingan pada akhirnya yang membuat kita itu ada, artinya kompromilah yang dapat mempertemukan 'nya' ditengah.


 

Terinspirasi, Ippho 'Right' Santoso, 7 Keajaiban Rezeki


 

Bogor, 06 October 2010

Tuesday, October 5, 2010

Governing Governance

Governance dalam tata bahasa memiliki makna yang lebih tepat sebagai Penata Kelola Sesuatu, dalam konteksnya intervensi strategi konservasi maka memiliki peranan sebagai penata kelola seluruh program yang berada di tingkat tapak, dalam istilah lain governance pun memiliki karakter sebagai pelayan dan pengasuh. Bos kami memaknai governance sebagai alat tembak sedangkan pelurunya diberikan oleh staff program. Persepsi seperti ini yang perlu dibangun konsepsinya, apakah governance memberikan supportnya kepada program atau sebaliknya seluruh program pada tingkat tapak memberikan kontribusi governance.


 

Kesalahan pencermatan kebanyakan staff adalah yang disebut dengan reduksionisme, menyederhanakan bidang kompleks kepada garis lurus yang sederhana, contohnya menerjemahkan strategic objective yang setara antara satu poin dengan poin yang lainnya menjadi strategic objective secara structural. Keduanya tidak bisa dianggap benar karena dapat mengabaikan tingkat kerumitan dan terbangun silo yang baru dengan ego site atau isu masing-masing.


 

Strategic objective tim governance secara umum kedalam tiga hal yaitu policy intervention, stakeholder engagement dan kelembagaan. Proses transisi yang cukup menarik adalah membuat frame pendekatan sejak dimulainya program, sehingga dapat secara proporsional membangun 'direct services' atau positioning ekspertise kelembagaan pada mitra. Proses kemitraan antara CSO dengan pemerintah masih sering dianggap tidak setara karena pemerintah yang tidak suka bisa saja melarang keberadaan dari CSO tersebut. Sehingga dengan dalih seperti itu maka proses direct services tadi akan membuat positioning CSO tidak setara dan memiliki positioning yang cukup kuat untuk menawarkan ekspertise tersebut.


 

Pemahaman strategic objective kedepan perlu dimaknai secara vertical dan horizontal, merefleksikan terhadap program satu tahun dan memiliki ukuran terhadap kinerja yang tepat.


 

Bogor, 05 Oktober 2010

Monday, October 4, 2010

Sekolah Kampungan

Mimpi Punya Sekolah

Saya dan istri suka mendiskusikan mimpi belakangan ini, sebetulnya memang suka saja melamun bersama, bukan karena para master motivator hidup sukses yang berkoar itu berhasil mencuci otak saya untuk memvisualisasikan tujuan agar mudah menjadi kenyataan, seperti jargonnya kawan yang kecemplung di bisnis MLM, "tempel foto mobil Mercedes Benz seri 101 di dinding kamar sambil sebutkan mereknya 100 kali satu hari, pasti lambat laun motor bebek Honda tahun 70an pun bisa berubah jadi mesin 3000cc", sungguh mengerikan buah dari teknik visualisasi.


 

Sekolah, betul kami berdua selalu punya ruang cerita untuk ide ini. Sekolah itu begitu mengasyikan, karena model potongan ibu dan bapak seperti kami ini adalah buah dari sekolah orangtua kita, dan kami tau betul pesakitannya jiwa dan pikiran ini. Jadilah sebuah mimpi sekolah yang dapat hadir penuh untuk menjadi model harapan, cita-cita dan doa untuk anak kami kedepan, paling tidak mendekatkan sekolah tersebut untuk anak-anak. Jangan pernah menghitung jumlah, itulah yang membuat orang dewasa frustasi, saya dan istri menggunakan hitungan kualitas!


 

Jadi kalo sekolah kita akan pasang target yang masih mungkin untuk dicapai, kalopun Tuhan memberi jalan kemudahan untuk anak orang lain itu hanya bonus sajaJ


 


 


 


 

Hey my boy is a poet!


Baca, baca, baca


Baca, bacaa, bacaa, baca, baca, baca, bacaa, bacaa….said our little son Zaky Fuad Nashiry, I think that was the first poem that he read for me J

I said to my sweetheart, 'I guess our son has the talent to become an artist, a poet, a singer, a composer'…she lough, noded and said, 'look what a child's mind like', it was gifted from God but later on the environment shape their mind, set of values and behavior.

I think children is our grand syakh at home, they teach us patience, enthusiasm and trueth. Until the age of 7, children have no blemish, their words are truth and honest. It is their parents who should take all the lesson from children.


 

Kota Bogor, Senin, 04 Oktober 2010


 

Wednesday, August 4, 2010

Saturday, June 12, 2010

“Luma”-yan Ilham Segar

Saya merasa terganggu dan terangsang dengan iklan gratis film biru 'luma-yan ilham Segar' sindir pojok Kompas (10/06) yang dipromosikan besar-besaran, tanpa ada protes, seperti tema film miyabi dan derivat sejenisnya. Mungkin tabiat kita bisa lebih 'menerima' kesenonohan kalau yang melakukan adalah seseorang yang telah menjadi model kebaikan hidup kita, saya belum lupa bagaimana film Ikal dan Arai yang berlari-lari mengejar mimpi mereka. "kita tak 'kan pernah mendahului nasib!" teriak Arai. "Kita akan sekolah ke Prancis, menjelejahi eropa sampai ke Afrika! Apapun yang terjadi!". Arai mungkin tetap Arai dalam hati pembaca sang pemimpi, namun sosok pemeran Arai kini ramai menjadi buah bibir dari orang tua, ahli informatika, politisi sampai pemimpin negara, betapa sedihnya kita lupa bahwa pembicaraan kita selalu dikelilingi anak-anak. Atau mungkin lebih tepat anak-anak yang disekeliling kita.

Betapa shocknya saya mendengar cerita satpam kantor, "anak-anak SD nonton bareng film 'luma-yan ilham' lewat HP" katanya, beliau sempat bilang mengingatkan sianak namun karena bapaknya derajat kekayaannya lebih tinggi, dia hanya membiarkan. Model moral apa yang sedang kita baca, tonton, lihat, dengar dan bicarakan belakangan ini. Jangankan menghabiskan waktu luang untuk hal penting mengasah kecerdasan untuk manfaat manusia yang lain, malahan kita dirangsang terus untuk memoroti moral kita dengan ketidak berdayaan. Atau mungkin kita merasa nyaman dan suci saat melihat dua manusia melakukan nista sambil melantur betapa jeleknya perbuatan orang tersebut.

Kalo dilihat lebih jernih, apakah yang kita ributkan belakangan ini noise bukan voice. Kenapa pula kita keteranjingan sekali melihat film syur berulang kali dengan dalih keingin tahuan menyangkut idol yang diidamkannya tersebut. Dalam berbagai bentuk kecanggihan teknologi manusia modern, bayangan tersebut direkam dalam berbagai bentuk dari flash disk, hard disk, micro memory dan sebagainya. Entah mungkin kita semua merelakan dipaksa menontoh hal tersebut.

Ada tiga jenis model manusia menurut ulama tradisional Ahmad Zaruq. Pertama dan yang terbaik adalah orang yang membuat orang lain mencintai manusia lainnya untuk mencintai pencipta yang Agung, memiliki ilmu untuk dirinya dan mencerahkan orang lain. Model kedua, orang yang mendapatkan manfaat dari ilmu yang didapatkannya namun tidak dapat mengajarkan orang lain, rojulun sholih, semua orang bisa mencapai hal ini. Model terakhir, orang yang bermanfaat untuk orang lain namun menghancurkan dirinya sendiri, dan tuhan mengancam orang terakhir tersebut dengan nestapa akhirat.

Manusia berjalan sebagai khalifah tuhan dibumi dengan sebuah konsep yang agung bentuk kehendah Tuhan yang Maha Tahu yang pada saat itu, menurut tradisi ide Tuhan sempat diprotes oleh para malaikat. Imam Al-Ghazali, seorang pemikir dan sufistik Islam, menggunakan empat istilah untuk membahas hakikat dan esensi manusia yaitu; qalb, ruh, nafs dan 'aql. Seluruhnya memiliki dua sisi mata koin yang sama dengan binatang sekaligus yang membuat manusia adalah manusia. Sisi pertama berbentuk fisik terletak di dada manusia; sesuatu yang halus yang dapat merasakan apa yang dialami jasad untuk mendengar, melihat, merasa; jiwa yang didalamnya sifat marah, syahwat dan sifat tercela lainnya (madhmumah); akal yang menjadi media memperoleh ilmu pengetahuan.

Manusia pada sisi koin kedualah ia menjadi manusia khalifah mandataris Tuhan, hati dengan sifat halus ketuhanan dan kerohanian, ruh yang menyebabkan manusia hidup, jiwa yang berkumpul didalamnya sifat yang baik (mahmudah) dan akal sifat orang yang berilmu untuk mengendalikan seluruh unsur tersebut untuk mengantarkan kepada posisi mulia dimata Tuhan. Binatang dan hewan bisa mengalahkan kita dalam seluruh manifestasi kemampuan jasmani, hawa nafsu, kekuatan birahi dan seluruh derifat alam binatangnya namun kita menjadikan diri kita manusia karena manifestasi ruh dan jiwa kita.

Siapa juga yang mau jadi manusia baik khalifah Tuhan, adakah nurani itu?saya sendiri masih gagap dengan teknologi dan gambar syur. Ini adalah pertarungan saya sesungguhnya dan semoga saya menang.

Fakhrizal Nashr, Tanjung Redeb, Minggu, 12 Juni 2010


Babi Berenang di Kampung Lesan Dayak

Hari Kamis (10/6) siang, cuaca di sepanjang hulu sungai Kelay agak mendung dan sesekali hujan rintik menerpa rambut ikal saya, belum bulih air sempat saya seka, sinar matahari sudah menyapa kembali, beginilah cuaca di sekitar hutan lindung sungai lesan belakangan ini. Perjalanan saya kali ini untuk melihat persiapan masyarakat kampung Lesan Dayak dan Muara Lesan untuk persemaian karet kampung mereka. Kedua kampung ini terletak di hilir sungai Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Kebetulan saya juga mendapat informasi bahwa adik dari kawan dekat saya menikah, seorang keturunan Dayak Lebo yang sedang melanjutkan studinya di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian, Kota Tanjung Redeb.

Jauh sudah jembatan Kelay saya tinggal dibelakang, jembatan arteri penghubung jalan darat trans Kalimantan penghubung Kabupaten Berau dan Kota Samarinda. Pak Klap, petani dari kampung Lesan Dayak, berusaha menembus beberapa jeram kecil yang ditemui ketinting kita- sejenis perahu yang cukup ditumpangi oleh 2-3 orang dan kendaraan umum masyarakat dayak. Saya mulai mengamati beberapa orang masyarakat yang sedang terjaga di pinggir sungai dalam ketinting mereka sambil mengamati sesuatu diseberang sungai. Semakin jauh dan cepat pak Klap menarik gas motor ketinting 5 PK, semakin banyak saya melihat masyarakat yang seperti menunggu sesuatu dipinggir hutan bekas HTI Belantara Pusaka. Beberapa ketinting sengaja ditutupi oleh pucuk dan ranting daun pedada. Sudah lebih dari 30an ketinting terlewati saya kira. Beberapa orang sendirian didalam ketinting bersandar santai, yang lain berisikan dua sampai tiga masyarakat yang berasal dari kampung tetangga duduk melintang mengamati ketinting kami menderu mengganggu keheningan mereka.

"Satu minggu lalu saya menghitung lebih dari 60an ketinting disepanjang sungai ini, mereka menunggu dan berburu babi berenang" kata Fajarmansyah, Community Organizer The Nature Conservancy. Masyarakat dayak sudah biasa saya dengar berburu dengan menggunakan sumpit atau dengan bantuan anjing berburunya, namun berburu babi (Sus barbatus) berenang baru kali ini saya dengar. Dua jam perjalanan saya habiskan menuju kampung Lesan Dayak, dibeberapa tempat saya sempat berhenti untuk melihat kebun karet wanatani masyarakat, lahan tebas bakar masyarakat sekarang telah ditanami pohon karet (Hevea brasiliensis) dan beberapa tanaman buah hutan seperti durian, rambutan dan buah akar yang dibiarkan tumbuh bersamaan.

Dikampung Lesan Dayak pemilik hajat bergegas menyambut dan terlihat sumringah melihat wajah lama saya, Pak Hatsong begitu panggilannya, tetua adat masyarakat, anak gadisnya disunting oleh pemudah sekampung yang juga sudah lama saya kenali. Sambil diajak makan di salah satu tempat yang telah disiapkan untuk tamu muslim, belakangan saya mendengar dari bapak tiga anak tersebut, hari ini larangan untuk berburu babi berenang sudah dibuka kembali untuk kampung yang lain sebelum sempat tiga hari yang lalu ditutup, "untuk memenuhi acara pernikahan ini semua kampung hulu dan hilir saya himbau untuk tidak berburu disepanjang 10 km daerah babi berenang" seru Pak Hatsong, beberapa masyarakat kampung Long Gie dan Merasa yang berada di hulu sungai dan kampung dayak punan yang berada di hilir sungai setidaknya perlu menempuh satu hari perjalanan dengan menghabiskan seratusan ribu bensin untuk bahan bakar. "Sebanyak 10 ekor babi jantan dan betina gemuk telah menjadi hidangan untuk tamu beberapa hari lalu", walaupun beliau sempat sedih karena ada beberapa warga kampungnya yang berhasil mendapatkan hasil buruan namun tidak diperuntukan untuk acara tersebut karena dijual kekampung sebelah, biasanya satu ekor babi bisa mencapai berat 20-30an kilogram dengan harga jual seharga 20-25 ribu per kilogram.

"Cerita orangtua dikampung, bahwa kawanan babi setiap tahunnya melakukan dua kali perjalanan melintasi sungai ini menuju hutan Lesan, saat awal datang masih kurus dan hendak berburu makanan pada musim buah-buahan, saat ini masyarakat juga berburu babi berenang, pada kali kedua setelah musim buah selesai, kawanan babi sudah gemuk dan mau melintas kembali untuk pulang, pada saat kedua ini masyarakat ramai-ramai berburu dengan tombak saat kawanan babi melintasi sungai dengan lebar 20-30an meter" jelas pak Hatsong.

Sekarang budaya membagi-bagi dan makan bersama hasil buruan masyarakat dayak sudah mulai terkikis dengan pola hidup komersil jual beli barang pada umumnya, sebagian masyarakat sekarang berburu untuk uang. Paling tidak sekarang saya merasa beruntung, saya sempat terheran-heran senang dan terkejut lucu mendengar salah satu kearifan budaya masyarakat dan hubungannya dengan hutan di kampung ini. Siapa tahu cerita ini akan hilang ditahun kedepan, maka pengalaman ini menjadi peristiwa ajaib manusia dizaman ini.

Ditulis Fakhrizal Nashr, The Nature Conservancy, Berau Program Manager, di Tanjung Redeb, 12 Juni 2010.

Monday, May 31, 2010

Karbon dan Zakat Lingkungan

Hidup dan sarana kehidupan yang diciptakan Tuhan bagi orang yang beriman, sudah beribu tahun kita diberikan standar dunia akhirat atas keseimbangan bertindak tanduk sebagai manusia. Sekarang ini manusia modern dibelahan bumi nusantara sedang trend dengan istilah 'karbon', mekanisme insentif uang dari upaya pemrakarsa mengurangi deforestasi dan degradasi, usaha tersebut pemrakarsa jual kepada pembeli yang selama 20 tahun terakhir ini menggunakan SDA yang diberi tuhan untuk keuntungan kelompoknya.

Kelompok tersebut dengan mekanisme -sebetulnya sangat kompleks, berbelit, belum jelas, spekulatif- akan membayar upaya pengurangan emisi (sampah) yang dibuat dengan pemrakarsa yang berhasil mengurangi sampah global tersebut. Kalo saja manusia itu patuh sama perintah Tuhan, sayangnya tabiatnya gak begitu dan mbalelo, prinsip berlaku adil dan berbuat kebaikan, tidak berbuat keji, kemungkaran dan permusuhan. Tentunya prinsip-prinsip tersebut sudah selayaknya menjadi cerminan kita hidup dengan berkeseimbangan di bumi ini. Pertama yang memanfaatkan alam pasti akan mengembalikan sebagian wujud keuntungannya kepada lingkungan dan masyarakat, wujud 2,5% zakat untuk membersihkan harta keuntungan pada hakikatnya adalah bentuk kesholehan atau ketundukan kita untuk berbagi tersebut. Angka 1/40 adalah angka minimum subyek manusia intelek dan berbudi.

Kalo kita buka-buka terjemahan Dep Agama dari kitab yang disucikan oleh Maha Pencipta, kata pembersihan atau tazkiah, selalu bersandang dengan sholat. Karena pada prinsipnya upaya gerak hidup kita, secara sufistik, adalah simbolis dari upaya pembersihan diri dengan pemaknaan doa dalam kehidupan.

Sebetulnya dibumi manusia modern ini, tidak ada hal yang baru, walaupun 'mainan' dunia kita banyak yang baru dan merupakan perjalanan panjang peradaban manusia. Pada hakikatnya bagaimana kita bisa hidup berkeseimbangan. Masalahnya kita ini perlu dikasih tau atau bisa secara sadar menjadi manusia baik secara social?

Quotes

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran" (QS AnNahl:90)

"Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan" (QS Al Baqarah 110)

Friday, May 21, 2010

Catatan Perjalanan 1 Emerging Leadership Program

Pertemuan Melbourne, 4-6 May 2010

Melbourne, sebuah kota yang berada di bagian provinsi Victoria, penuh dengan rahasia kenindahan dan keteraturan kota. Melbourne memiliki jumlah penduduk lebih dari 4 juta orang. Didalam kota itu sendiri terdapat lebih dari 2000 restoran yang datang lebih dari 70 negara dan bangsa yang berbeda.

Jalan Swanston adalah urat nadi kota Melbourne, sepanjang saya berjalan senyap-senyap acapkali mendengar percakapan yang saya kenali bahasanya…orang rumun melayu nampaknya cukup banyak di sini. Sebagian besar wajah asia yang saya temui masih cukup belia, anak sekolahan, mungkin mereka direlakan orang tua mereka untuk pergi jauh merantau belajar dinegeri kangguru sambil belajar bahasa inggris.

Pada hari pertama, misi saya dan pak Bachrun –teman TNC- mencari restoran melayu yang halal!. Ternyata tidak terlalu sulit untuk menemukannya, di depan State Library ada satu restoran Nelayan Indonesia, ada label halal dari MUI Australia dan tentunya isi masakannya sangat saya minati dan kenali. Minum pun gaketinggalan saya pesan Teh Kotak. Sebetulnya mitos aja kalo orang Indonesia itu belum makan sebelum makan nasi, buktinya saya gak tuh.

Figure 1: Menu emak ada di Melbourne

4 May 2010

Hari pertama mengulas bagaimana mengubah strategi menjadi aksi tindakan. Peserta diajak menganalisa sebuah scenario situasi program 'red river scenario' dari aspek OGSP best practices dan isu masalah staffing. Setelah sesi rehat workshop dilanjutkan dengan pemaparan Cynthia mengenai situasional leadership, dimana seorang manajer dituntut untuk mencocokan style kepemimpinannya dengan tingkat pengembangan staff. Sejatinya situasi kepemimpinan akan berubah dari directing, coaching, supporting dan delegating. Secara alamiah kemampuan staff akan meningkat dari kompetensi rendah, rendah ke moderat, moderat ke tinggi dan kompetensi tinggi. Uniknya semakin tinggi tingkat kemampuan membutuhkan dukungan supervisi yang berbeda tergantung seberapa tinggi tingkat komitmen staff.

5 May 2010

Hari kedua focus untuk memberikan coaching atau melatih staff untuk meraih hasil. Pada sesi kedua peserta belajar bagaimana membangun pembicaraan yang efektif dengan teknik motivasi dan penyelesaian masalah yang konstruktif.

6 May 2010

Peserta pada hari terakhir berlatih memberikan klarifikasi terhadap ekpektasi harapan organisasi terhadap staff. Setiap peserta membawa masalah sehari-hari yang dihadapi dan mendiskusikan bersama kawan-kawan TNC yang datang dari beragam daerah, lucunya beberapa permasalahan yang dihadapi cukup seragam seperti masalah budaya asia terhadap sikap terhadap staff atau mitra yang lebih tua dan bagaimana sikap terbaik ketika akan memberikan masukan yang konstruktif.

Sesi hari terakhir diisi beberapa contoh video percakapan staff dan supervisor yang efektif dan tidak efektif dilihat dari aksi dan hasil bagi organisasi.

Hari terakhir tidak terlihat ada kesedihan dari peserta, atau mungkin lebih pada kegembiraan karena peserta akan bertemu kembali di Australia dan satu pertemuan terakhir di tempat yang belum ditentukan. Mungkin perasaan The Travel and Culinary yang menggebu untuk bertemu dengan anggota kelompok tersebut pada pertemuan mendatang. Selamat tinggal Melbourne dan sampai nanti bertemu kembali.

Figure 2: Karpet merah mengucapkan selamat datang

Kondisi bandara internasional di Melbourne diisi oleh instalasi papan informasi, billboard iklan dan jendela besar dengan view pesawat terbang. Dipintu masuk semua pelancong disambut dengan ucapan 'welcome to Melbourne' yang mengingatkan saya dengan keset (sunda: alas karpet berukuran kecil) dengan tulisan welcome juga.

Friday, May 14, 2010

Employee's Journal <Kwadran Nawa>

<Tanjung Redeb and 14 May 2010>
1. Results & Notes (what, when, where, who, why,ho):

Urusan bekerja dengan seimbang secara sadar sering tidak disadari adalah dasar dari kesehatan dan keseimbangan hidup kita secara umum. Ada orang yang bekerja dalam kondisi main-main, datang bikin kopi, ngobrol ngalor ngidul, ngurusin kelakuan orang, curiga dan ngegosip. Orang jenis ini masuk kedalama kwadran Nawa terakhir yaitu tidak penting dan tidak mendesak. Semoga kita terhindar dari kwadran ini.

Ada orang yang bekerja terlalu capek setiap hari, melakukan hal mendesak yang tidak penting, kalo kita sering pada kwadran ini, artinya hidup kita diatur oleh jadwal orang lain dan kita tidak memiliki prioritas hidup. Galibnya orang yang kebelet dan harus cepat menyelesaikan hajatnya.

Jenis kwadran Nawa ketiga adalah orang yang ideal, mampu menajamkan gergaji dan mengembangkan ide. Waktu dikelola dengan baik untuk merencanakan dan mengorganisasi hidup. Hidup untuk melakukan hal penting tanpa ketergesaan. Hidup penuh warna untuk mewarnai dunia tanpa ketegangan dan kualitas pekerjaan menjadi lebih bermutu.

Tipikal manusia terakhir adalah jenis battery full power, bekerja dalam keterburu-buruan, tidak memiliki waktu yang cukup untuk merefleksi apa yang sudah dilakukan. Pekerjaan penting menjadi kurang berkualitas, kurang berbobot, monoton, kurang sentuhan proses pro kreatif. Ibarat orang yang dipacu bak kuda dan didera setiap waktu. Sahabat yang kebakaran, over used, burnt out bisa jadi adalah gejala dari tipe kwadran nawa terakhir ini.

2. Problem/ Opportunity/ Recommendations:

Miliki dan buatlah kesempatan untuk mengasah alat bekerja kita. Petani bisa memiliki waktu untuk mengasah arit, pelaut bisa menjalin jaring, wartawan bisa membaca, pemimpin bisa menganalisa alat membuat keputusan untuk memberikan hasil dengan upaya terbaik.

 3. Reference Materials

kuli holic

bekerja tanpa charge batere

over used

stress, depresi, bekerja dan bekerja

leyeh-leyeh

hidup berjalan sambil tidur

Proses pro-kreatif

menemukan nilai dan pemaknaan hidup

  

Tabel 1. Kwadran Pak Nawa