Monday, May 31, 2010

Karbon dan Zakat Lingkungan

Hidup dan sarana kehidupan yang diciptakan Tuhan bagi orang yang beriman, sudah beribu tahun kita diberikan standar dunia akhirat atas keseimbangan bertindak tanduk sebagai manusia. Sekarang ini manusia modern dibelahan bumi nusantara sedang trend dengan istilah 'karbon', mekanisme insentif uang dari upaya pemrakarsa mengurangi deforestasi dan degradasi, usaha tersebut pemrakarsa jual kepada pembeli yang selama 20 tahun terakhir ini menggunakan SDA yang diberi tuhan untuk keuntungan kelompoknya.

Kelompok tersebut dengan mekanisme -sebetulnya sangat kompleks, berbelit, belum jelas, spekulatif- akan membayar upaya pengurangan emisi (sampah) yang dibuat dengan pemrakarsa yang berhasil mengurangi sampah global tersebut. Kalo saja manusia itu patuh sama perintah Tuhan, sayangnya tabiatnya gak begitu dan mbalelo, prinsip berlaku adil dan berbuat kebaikan, tidak berbuat keji, kemungkaran dan permusuhan. Tentunya prinsip-prinsip tersebut sudah selayaknya menjadi cerminan kita hidup dengan berkeseimbangan di bumi ini. Pertama yang memanfaatkan alam pasti akan mengembalikan sebagian wujud keuntungannya kepada lingkungan dan masyarakat, wujud 2,5% zakat untuk membersihkan harta keuntungan pada hakikatnya adalah bentuk kesholehan atau ketundukan kita untuk berbagi tersebut. Angka 1/40 adalah angka minimum subyek manusia intelek dan berbudi.

Kalo kita buka-buka terjemahan Dep Agama dari kitab yang disucikan oleh Maha Pencipta, kata pembersihan atau tazkiah, selalu bersandang dengan sholat. Karena pada prinsipnya upaya gerak hidup kita, secara sufistik, adalah simbolis dari upaya pembersihan diri dengan pemaknaan doa dalam kehidupan.

Sebetulnya dibumi manusia modern ini, tidak ada hal yang baru, walaupun 'mainan' dunia kita banyak yang baru dan merupakan perjalanan panjang peradaban manusia. Pada hakikatnya bagaimana kita bisa hidup berkeseimbangan. Masalahnya kita ini perlu dikasih tau atau bisa secara sadar menjadi manusia baik secara social?

Quotes

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran" (QS AnNahl:90)

"Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan" (QS Al Baqarah 110)

Friday, May 21, 2010

Catatan Perjalanan 1 Emerging Leadership Program

Pertemuan Melbourne, 4-6 May 2010

Melbourne, sebuah kota yang berada di bagian provinsi Victoria, penuh dengan rahasia kenindahan dan keteraturan kota. Melbourne memiliki jumlah penduduk lebih dari 4 juta orang. Didalam kota itu sendiri terdapat lebih dari 2000 restoran yang datang lebih dari 70 negara dan bangsa yang berbeda.

Jalan Swanston adalah urat nadi kota Melbourne, sepanjang saya berjalan senyap-senyap acapkali mendengar percakapan yang saya kenali bahasanya…orang rumun melayu nampaknya cukup banyak di sini. Sebagian besar wajah asia yang saya temui masih cukup belia, anak sekolahan, mungkin mereka direlakan orang tua mereka untuk pergi jauh merantau belajar dinegeri kangguru sambil belajar bahasa inggris.

Pada hari pertama, misi saya dan pak Bachrun –teman TNC- mencari restoran melayu yang halal!. Ternyata tidak terlalu sulit untuk menemukannya, di depan State Library ada satu restoran Nelayan Indonesia, ada label halal dari MUI Australia dan tentunya isi masakannya sangat saya minati dan kenali. Minum pun gaketinggalan saya pesan Teh Kotak. Sebetulnya mitos aja kalo orang Indonesia itu belum makan sebelum makan nasi, buktinya saya gak tuh.

Figure 1: Menu emak ada di Melbourne

4 May 2010

Hari pertama mengulas bagaimana mengubah strategi menjadi aksi tindakan. Peserta diajak menganalisa sebuah scenario situasi program 'red river scenario' dari aspek OGSP best practices dan isu masalah staffing. Setelah sesi rehat workshop dilanjutkan dengan pemaparan Cynthia mengenai situasional leadership, dimana seorang manajer dituntut untuk mencocokan style kepemimpinannya dengan tingkat pengembangan staff. Sejatinya situasi kepemimpinan akan berubah dari directing, coaching, supporting dan delegating. Secara alamiah kemampuan staff akan meningkat dari kompetensi rendah, rendah ke moderat, moderat ke tinggi dan kompetensi tinggi. Uniknya semakin tinggi tingkat kemampuan membutuhkan dukungan supervisi yang berbeda tergantung seberapa tinggi tingkat komitmen staff.

5 May 2010

Hari kedua focus untuk memberikan coaching atau melatih staff untuk meraih hasil. Pada sesi kedua peserta belajar bagaimana membangun pembicaraan yang efektif dengan teknik motivasi dan penyelesaian masalah yang konstruktif.

6 May 2010

Peserta pada hari terakhir berlatih memberikan klarifikasi terhadap ekpektasi harapan organisasi terhadap staff. Setiap peserta membawa masalah sehari-hari yang dihadapi dan mendiskusikan bersama kawan-kawan TNC yang datang dari beragam daerah, lucunya beberapa permasalahan yang dihadapi cukup seragam seperti masalah budaya asia terhadap sikap terhadap staff atau mitra yang lebih tua dan bagaimana sikap terbaik ketika akan memberikan masukan yang konstruktif.

Sesi hari terakhir diisi beberapa contoh video percakapan staff dan supervisor yang efektif dan tidak efektif dilihat dari aksi dan hasil bagi organisasi.

Hari terakhir tidak terlihat ada kesedihan dari peserta, atau mungkin lebih pada kegembiraan karena peserta akan bertemu kembali di Australia dan satu pertemuan terakhir di tempat yang belum ditentukan. Mungkin perasaan The Travel and Culinary yang menggebu untuk bertemu dengan anggota kelompok tersebut pada pertemuan mendatang. Selamat tinggal Melbourne dan sampai nanti bertemu kembali.

Figure 2: Karpet merah mengucapkan selamat datang

Kondisi bandara internasional di Melbourne diisi oleh instalasi papan informasi, billboard iklan dan jendela besar dengan view pesawat terbang. Dipintu masuk semua pelancong disambut dengan ucapan 'welcome to Melbourne' yang mengingatkan saya dengan keset (sunda: alas karpet berukuran kecil) dengan tulisan welcome juga.

Friday, May 14, 2010

Employee's Journal <Kwadran Nawa>

<Tanjung Redeb and 14 May 2010>
1. Results & Notes (what, when, where, who, why,ho):

Urusan bekerja dengan seimbang secara sadar sering tidak disadari adalah dasar dari kesehatan dan keseimbangan hidup kita secara umum. Ada orang yang bekerja dalam kondisi main-main, datang bikin kopi, ngobrol ngalor ngidul, ngurusin kelakuan orang, curiga dan ngegosip. Orang jenis ini masuk kedalama kwadran Nawa terakhir yaitu tidak penting dan tidak mendesak. Semoga kita terhindar dari kwadran ini.

Ada orang yang bekerja terlalu capek setiap hari, melakukan hal mendesak yang tidak penting, kalo kita sering pada kwadran ini, artinya hidup kita diatur oleh jadwal orang lain dan kita tidak memiliki prioritas hidup. Galibnya orang yang kebelet dan harus cepat menyelesaikan hajatnya.

Jenis kwadran Nawa ketiga adalah orang yang ideal, mampu menajamkan gergaji dan mengembangkan ide. Waktu dikelola dengan baik untuk merencanakan dan mengorganisasi hidup. Hidup untuk melakukan hal penting tanpa ketergesaan. Hidup penuh warna untuk mewarnai dunia tanpa ketegangan dan kualitas pekerjaan menjadi lebih bermutu.

Tipikal manusia terakhir adalah jenis battery full power, bekerja dalam keterburu-buruan, tidak memiliki waktu yang cukup untuk merefleksi apa yang sudah dilakukan. Pekerjaan penting menjadi kurang berkualitas, kurang berbobot, monoton, kurang sentuhan proses pro kreatif. Ibarat orang yang dipacu bak kuda dan didera setiap waktu. Sahabat yang kebakaran, over used, burnt out bisa jadi adalah gejala dari tipe kwadran nawa terakhir ini.

2. Problem/ Opportunity/ Recommendations:

Miliki dan buatlah kesempatan untuk mengasah alat bekerja kita. Petani bisa memiliki waktu untuk mengasah arit, pelaut bisa menjalin jaring, wartawan bisa membaca, pemimpin bisa menganalisa alat membuat keputusan untuk memberikan hasil dengan upaya terbaik.

 3. Reference Materials

kuli holic

bekerja tanpa charge batere

over used

stress, depresi, bekerja dan bekerja

leyeh-leyeh

hidup berjalan sambil tidur

Proses pro-kreatif

menemukan nilai dan pemaknaan hidup

  

Tabel 1. Kwadran Pak Nawa