Friday, May 21, 2010

Catatan Perjalanan 1 Emerging Leadership Program

Pertemuan Melbourne, 4-6 May 2010

Melbourne, sebuah kota yang berada di bagian provinsi Victoria, penuh dengan rahasia kenindahan dan keteraturan kota. Melbourne memiliki jumlah penduduk lebih dari 4 juta orang. Didalam kota itu sendiri terdapat lebih dari 2000 restoran yang datang lebih dari 70 negara dan bangsa yang berbeda.

Jalan Swanston adalah urat nadi kota Melbourne, sepanjang saya berjalan senyap-senyap acapkali mendengar percakapan yang saya kenali bahasanya…orang rumun melayu nampaknya cukup banyak di sini. Sebagian besar wajah asia yang saya temui masih cukup belia, anak sekolahan, mungkin mereka direlakan orang tua mereka untuk pergi jauh merantau belajar dinegeri kangguru sambil belajar bahasa inggris.

Pada hari pertama, misi saya dan pak Bachrun –teman TNC- mencari restoran melayu yang halal!. Ternyata tidak terlalu sulit untuk menemukannya, di depan State Library ada satu restoran Nelayan Indonesia, ada label halal dari MUI Australia dan tentunya isi masakannya sangat saya minati dan kenali. Minum pun gaketinggalan saya pesan Teh Kotak. Sebetulnya mitos aja kalo orang Indonesia itu belum makan sebelum makan nasi, buktinya saya gak tuh.

Figure 1: Menu emak ada di Melbourne

4 May 2010

Hari pertama mengulas bagaimana mengubah strategi menjadi aksi tindakan. Peserta diajak menganalisa sebuah scenario situasi program 'red river scenario' dari aspek OGSP best practices dan isu masalah staffing. Setelah sesi rehat workshop dilanjutkan dengan pemaparan Cynthia mengenai situasional leadership, dimana seorang manajer dituntut untuk mencocokan style kepemimpinannya dengan tingkat pengembangan staff. Sejatinya situasi kepemimpinan akan berubah dari directing, coaching, supporting dan delegating. Secara alamiah kemampuan staff akan meningkat dari kompetensi rendah, rendah ke moderat, moderat ke tinggi dan kompetensi tinggi. Uniknya semakin tinggi tingkat kemampuan membutuhkan dukungan supervisi yang berbeda tergantung seberapa tinggi tingkat komitmen staff.

5 May 2010

Hari kedua focus untuk memberikan coaching atau melatih staff untuk meraih hasil. Pada sesi kedua peserta belajar bagaimana membangun pembicaraan yang efektif dengan teknik motivasi dan penyelesaian masalah yang konstruktif.

6 May 2010

Peserta pada hari terakhir berlatih memberikan klarifikasi terhadap ekpektasi harapan organisasi terhadap staff. Setiap peserta membawa masalah sehari-hari yang dihadapi dan mendiskusikan bersama kawan-kawan TNC yang datang dari beragam daerah, lucunya beberapa permasalahan yang dihadapi cukup seragam seperti masalah budaya asia terhadap sikap terhadap staff atau mitra yang lebih tua dan bagaimana sikap terbaik ketika akan memberikan masukan yang konstruktif.

Sesi hari terakhir diisi beberapa contoh video percakapan staff dan supervisor yang efektif dan tidak efektif dilihat dari aksi dan hasil bagi organisasi.

Hari terakhir tidak terlihat ada kesedihan dari peserta, atau mungkin lebih pada kegembiraan karena peserta akan bertemu kembali di Australia dan satu pertemuan terakhir di tempat yang belum ditentukan. Mungkin perasaan The Travel and Culinary yang menggebu untuk bertemu dengan anggota kelompok tersebut pada pertemuan mendatang. Selamat tinggal Melbourne dan sampai nanti bertemu kembali.

Figure 2: Karpet merah mengucapkan selamat datang

Kondisi bandara internasional di Melbourne diisi oleh instalasi papan informasi, billboard iklan dan jendela besar dengan view pesawat terbang. Dipintu masuk semua pelancong disambut dengan ucapan 'welcome to Melbourne' yang mengingatkan saya dengan keset (sunda: alas karpet berukuran kecil) dengan tulisan welcome juga.

No comments:

Post a Comment