Saya merasa terganggu dan terangsang dengan iklan gratis film biru 'luma-yan ilham Segar' sindir pojok Kompas (10/06) yang dipromosikan besar-besaran, tanpa ada protes, seperti tema film miyabi dan derivat sejenisnya. Mungkin tabiat kita bisa lebih 'menerima' kesenonohan kalau yang melakukan adalah seseorang yang telah menjadi model kebaikan hidup kita, saya belum lupa bagaimana film Ikal dan Arai yang berlari-lari mengejar mimpi mereka. "kita tak 'kan pernah mendahului nasib!" teriak Arai. "Kita akan sekolah ke Prancis, menjelejahi eropa sampai ke Afrika! Apapun yang terjadi!". Arai mungkin tetap Arai dalam hati pembaca sang pemimpi, namun sosok pemeran Arai kini ramai menjadi buah bibir dari orang tua, ahli informatika, politisi sampai pemimpin negara, betapa sedihnya kita lupa bahwa pembicaraan kita selalu dikelilingi anak-anak. Atau mungkin lebih tepat anak-anak yang disekeliling kita.
Betapa shocknya saya mendengar cerita satpam kantor, "anak-anak SD nonton bareng film 'luma-yan ilham' lewat HP" katanya, beliau sempat bilang mengingatkan sianak namun karena bapaknya derajat kekayaannya lebih tinggi, dia hanya membiarkan. Model moral apa yang sedang kita baca, tonton, lihat, dengar dan bicarakan belakangan ini. Jangankan menghabiskan waktu luang untuk hal penting mengasah kecerdasan untuk manfaat manusia yang lain, malahan kita dirangsang terus untuk memoroti moral kita dengan ketidak berdayaan. Atau mungkin kita merasa nyaman dan suci saat melihat dua manusia melakukan nista sambil melantur betapa jeleknya perbuatan orang tersebut.
Kalo dilihat lebih jernih, apakah yang kita ributkan belakangan ini noise bukan voice. Kenapa pula kita keteranjingan sekali melihat film syur berulang kali dengan dalih keingin tahuan menyangkut idol yang diidamkannya tersebut. Dalam berbagai bentuk kecanggihan teknologi manusia modern, bayangan tersebut direkam dalam berbagai bentuk dari flash disk, hard disk, micro memory dan sebagainya. Entah mungkin kita semua merelakan dipaksa menontoh hal tersebut.
Ada tiga jenis model manusia menurut ulama tradisional Ahmad Zaruq. Pertama dan yang terbaik adalah orang yang membuat orang lain mencintai manusia lainnya untuk mencintai pencipta yang Agung, memiliki ilmu untuk dirinya dan mencerahkan orang lain. Model kedua, orang yang mendapatkan manfaat dari ilmu yang didapatkannya namun tidak dapat mengajarkan orang lain, rojulun sholih, semua orang bisa mencapai hal ini. Model terakhir, orang yang bermanfaat untuk orang lain namun menghancurkan dirinya sendiri, dan tuhan mengancam orang terakhir tersebut dengan nestapa akhirat.
Manusia berjalan sebagai khalifah tuhan dibumi dengan sebuah konsep yang agung bentuk kehendah Tuhan yang Maha Tahu yang pada saat itu, menurut tradisi ide Tuhan sempat diprotes oleh para malaikat. Imam Al-Ghazali, seorang pemikir dan sufistik Islam, menggunakan empat istilah untuk membahas hakikat dan esensi manusia yaitu; qalb, ruh, nafs dan 'aql. Seluruhnya memiliki dua sisi mata koin yang sama dengan binatang sekaligus yang membuat manusia adalah manusia. Sisi pertama berbentuk fisik terletak di dada manusia; sesuatu yang halus yang dapat merasakan apa yang dialami jasad untuk mendengar, melihat, merasa; jiwa yang didalamnya sifat marah, syahwat dan sifat tercela lainnya (madhmumah); akal yang menjadi media memperoleh ilmu pengetahuan.
Manusia pada sisi koin kedualah ia menjadi manusia khalifah mandataris Tuhan, hati dengan sifat halus ketuhanan dan kerohanian, ruh yang menyebabkan manusia hidup, jiwa yang berkumpul didalamnya sifat yang baik (mahmudah) dan akal sifat orang yang berilmu untuk mengendalikan seluruh unsur tersebut untuk mengantarkan kepada posisi mulia dimata Tuhan. Binatang dan hewan bisa mengalahkan kita dalam seluruh manifestasi kemampuan jasmani, hawa nafsu, kekuatan birahi dan seluruh derifat alam binatangnya namun kita menjadikan diri kita manusia karena manifestasi ruh dan jiwa kita.
Siapa juga yang mau jadi manusia baik khalifah Tuhan, adakah nurani itu?saya sendiri masih gagap dengan teknologi dan gambar syur. Ini adalah pertarungan saya sesungguhnya dan semoga saya menang.
Fakhrizal Nashr, Tanjung Redeb, Minggu, 12 Juni 2010