Saturday, June 12, 2010

Babi Berenang di Kampung Lesan Dayak

Hari Kamis (10/6) siang, cuaca di sepanjang hulu sungai Kelay agak mendung dan sesekali hujan rintik menerpa rambut ikal saya, belum bulih air sempat saya seka, sinar matahari sudah menyapa kembali, beginilah cuaca di sekitar hutan lindung sungai lesan belakangan ini. Perjalanan saya kali ini untuk melihat persiapan masyarakat kampung Lesan Dayak dan Muara Lesan untuk persemaian karet kampung mereka. Kedua kampung ini terletak di hilir sungai Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Kebetulan saya juga mendapat informasi bahwa adik dari kawan dekat saya menikah, seorang keturunan Dayak Lebo yang sedang melanjutkan studinya di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian, Kota Tanjung Redeb.

Jauh sudah jembatan Kelay saya tinggal dibelakang, jembatan arteri penghubung jalan darat trans Kalimantan penghubung Kabupaten Berau dan Kota Samarinda. Pak Klap, petani dari kampung Lesan Dayak, berusaha menembus beberapa jeram kecil yang ditemui ketinting kita- sejenis perahu yang cukup ditumpangi oleh 2-3 orang dan kendaraan umum masyarakat dayak. Saya mulai mengamati beberapa orang masyarakat yang sedang terjaga di pinggir sungai dalam ketinting mereka sambil mengamati sesuatu diseberang sungai. Semakin jauh dan cepat pak Klap menarik gas motor ketinting 5 PK, semakin banyak saya melihat masyarakat yang seperti menunggu sesuatu dipinggir hutan bekas HTI Belantara Pusaka. Beberapa ketinting sengaja ditutupi oleh pucuk dan ranting daun pedada. Sudah lebih dari 30an ketinting terlewati saya kira. Beberapa orang sendirian didalam ketinting bersandar santai, yang lain berisikan dua sampai tiga masyarakat yang berasal dari kampung tetangga duduk melintang mengamati ketinting kami menderu mengganggu keheningan mereka.

"Satu minggu lalu saya menghitung lebih dari 60an ketinting disepanjang sungai ini, mereka menunggu dan berburu babi berenang" kata Fajarmansyah, Community Organizer The Nature Conservancy. Masyarakat dayak sudah biasa saya dengar berburu dengan menggunakan sumpit atau dengan bantuan anjing berburunya, namun berburu babi (Sus barbatus) berenang baru kali ini saya dengar. Dua jam perjalanan saya habiskan menuju kampung Lesan Dayak, dibeberapa tempat saya sempat berhenti untuk melihat kebun karet wanatani masyarakat, lahan tebas bakar masyarakat sekarang telah ditanami pohon karet (Hevea brasiliensis) dan beberapa tanaman buah hutan seperti durian, rambutan dan buah akar yang dibiarkan tumbuh bersamaan.

Dikampung Lesan Dayak pemilik hajat bergegas menyambut dan terlihat sumringah melihat wajah lama saya, Pak Hatsong begitu panggilannya, tetua adat masyarakat, anak gadisnya disunting oleh pemudah sekampung yang juga sudah lama saya kenali. Sambil diajak makan di salah satu tempat yang telah disiapkan untuk tamu muslim, belakangan saya mendengar dari bapak tiga anak tersebut, hari ini larangan untuk berburu babi berenang sudah dibuka kembali untuk kampung yang lain sebelum sempat tiga hari yang lalu ditutup, "untuk memenuhi acara pernikahan ini semua kampung hulu dan hilir saya himbau untuk tidak berburu disepanjang 10 km daerah babi berenang" seru Pak Hatsong, beberapa masyarakat kampung Long Gie dan Merasa yang berada di hulu sungai dan kampung dayak punan yang berada di hilir sungai setidaknya perlu menempuh satu hari perjalanan dengan menghabiskan seratusan ribu bensin untuk bahan bakar. "Sebanyak 10 ekor babi jantan dan betina gemuk telah menjadi hidangan untuk tamu beberapa hari lalu", walaupun beliau sempat sedih karena ada beberapa warga kampungnya yang berhasil mendapatkan hasil buruan namun tidak diperuntukan untuk acara tersebut karena dijual kekampung sebelah, biasanya satu ekor babi bisa mencapai berat 20-30an kilogram dengan harga jual seharga 20-25 ribu per kilogram.

"Cerita orangtua dikampung, bahwa kawanan babi setiap tahunnya melakukan dua kali perjalanan melintasi sungai ini menuju hutan Lesan, saat awal datang masih kurus dan hendak berburu makanan pada musim buah-buahan, saat ini masyarakat juga berburu babi berenang, pada kali kedua setelah musim buah selesai, kawanan babi sudah gemuk dan mau melintas kembali untuk pulang, pada saat kedua ini masyarakat ramai-ramai berburu dengan tombak saat kawanan babi melintasi sungai dengan lebar 20-30an meter" jelas pak Hatsong.

Sekarang budaya membagi-bagi dan makan bersama hasil buruan masyarakat dayak sudah mulai terkikis dengan pola hidup komersil jual beli barang pada umumnya, sebagian masyarakat sekarang berburu untuk uang. Paling tidak sekarang saya merasa beruntung, saya sempat terheran-heran senang dan terkejut lucu mendengar salah satu kearifan budaya masyarakat dan hubungannya dengan hutan di kampung ini. Siapa tahu cerita ini akan hilang ditahun kedepan, maka pengalaman ini menjadi peristiwa ajaib manusia dizaman ini.

Ditulis Fakhrizal Nashr, The Nature Conservancy, Berau Program Manager, di Tanjung Redeb, 12 Juni 2010.

No comments:

Post a Comment